Arrival, Fiksi Ilmiah yang Puitis

Bayi layaknya mahluk luar angkasa. Ia datang ke dunia dengan bahasa yang asing. Ia berkomunikasi dengan caranya sendiri, yang berbeda dari manusia-manusia yang lebih tua. Ia pun tak mengerti apa yang dibicarakan oleh makhluk-makhluk di sekitarnya, sampai datang seorang manusia untuk mengajarinya.

Ada alasan mengapa bahasa pertama yang dikenal seorang manusia disebut bahasa ibu. Ibu adalah manusia pertama yang mengajarkan bahasa kepada seorang bayi. Secara naluriah, perempuan memiliki peran dan kemampuan untuk mengenalkan bahasa dan menjadi jembatan komunikasi.

Lewat potongan-potongan adegan di awal film yang disusun layaknya kilas balik, penonton terlebih dahulu mengenal Louise Banks (Amy Adams) sebagai seorang ibu yang kehilangan anaknya akibat penyakit yang tidak dijelaskan. Kemudian, penonton tahu bahwa tokoh sentral dalam Arrival (2016) tidak hanya seorang perempuan dan ibu; ia juga ahli linguistik. Louise ditugaskan memimpin sekelompok ilmuwan untuk memecahkan maksud kedatangan makhluk-makhluk luar angkasa bertentakel tujuh (heptapod), ketika salah satu dari 12 kapal mereka berlabuh di Montana, Amerika Serikat. Melalui mata dan telinga Louise lah, penonton masuk ke dalam cerita.

Dr. Ellie Arroway (Jodie Foster) dalam Contact (1997) adalah seorang astronom, sedangkan Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) dalam Gravity (2013) adalah insinyur biomedis. Meski tidak spesifik disebutkan bidangnya, Murph Cooper (Jessica Chastain) dalam Interstellar (2014) juga seorang ilmuwan sains. Memilih seorang perempuan ilmuwan sosial memberi sudut pandang yang lembut dan manusiawi  dalam cerita fiksi ilmiah yang biasanya lebih mengedepankan gagasan-gagasan logis dan material.

arrival-movie-review

Amy Adams dan Jeremy Renner dalam Arrival

Namun, Louise tidak sendirian. Ada Ian Donnelly (Jeremy Renner), seorang fisikawan, yang juga ditunjuk untuk memimpin sebuah tim berbeda dengan misi yang sama. Dunia tampak belum yakin bahwa seorang perempuan dan ilmu sosial sudah cukup untuk menyelamatkan umat manusia.

Jangan mengharapkan pengalaman visual yang tak biasa atau adegan aksi yang seru. Adegan saat Louise berinteraksi langsung dengan para heptapod malah terasa artifisial karena olahan efek khusus yang ‘biasa saja’. Arrival tetap menampilkan shot yang megah, meski objeknya lebih didominasi lanskap dalam nada warna yang hangat daripada eksplorasi eksperimental–seperti misalnya, ombak raksasa di Interstellar–membuatnya puitis, alih-alih saintifik.

Seperti Gravity, Arrival bercerita tentang perjalanan seorang individu mengenali dirinya sendiri melalui sesuatu yang asing. Puncak-puncak ketegangan dibangun dari usaha memecahkan teka-teki kedatangan para heptapod dan keterkaitannya dengan potongan-potongan ingatan Louise yang tercerai-berai. Teka-teki harus dipecahkan selekas mungkin sebelum Tiongkok yang digambarkan begitu digdaya memutuskan untuk memimpin serangan atas nama umat manusia. Louise menjadi penting tak hanya karena keahlian linguistiknya, tetapi juga karena ia menyimpan ‘senjata’ yang dibutuhkan bangsa luar angkasa itu. Para heptapod adalah perantara, bukan akar masalah. Mereka menjadi narasumber Louise mengungkap satu per satu petunjuk, yang pada akhirnya bermuara pada dirinya sendiri dan menjadi kunci untuk memahami apa yang terjadi dalam hidupnya.

Alasan dan tujuan para makhluk luar angkasa muncul di bumi bukannya tak penting, hanya saja begitu sederhana. Untuk memaparkannya, Arrival menggunakan kondisi politik dan sosial dunia yang berkembang saat ini. Amerika Serikat yang kehilangan kekuatan, Tiongkok yang dianggap menjadi poros dunia baru. Umat manusia yang terpecah belah oleh kepentingannya masing-masing, juga kendali media terhadap opini masyarakat–yang ditampilkan lewat kalimat-kalimat yang diucapkan Louise kepada ibunya lewat telepon, “Mom, please don’t bother with that channel. How many times do I have to say that those people are idiots?”

Selagi tim yang dipimpin Louise sibuk mengartikan bahasa heptapod, spekulasi akan adanya rencana serangan alien berkembang liar ke seantero dunia, melahirkan huru-hara di mana-mana. Ketakutan dan kepanikan mendorong orang-orang menjarah dan saling menyakiti demi menjamin keselamatan diri sendiri. Padahal, makhluk-makhluk asing ini belum juga jelas menyatakan maksud kedatangannya.

Arrival seperti tak merasa perlu menjelaskan dengan eksplisit apa makna di balik kedatangan makhluk-makhluk luar angkasa itu. Seperti para heptapod, Dennis Villeneuve memosisikan film ini sebagai perantara. Sebuah perenungan bagi penonton untuk bercermin ke dalam diri sendiri dan menemukan bahwa sejatinya, manusia adalah akar dari masalahnya sendiri.

Anggunnya Sebuah Perlawanan dalam Athirah

Narasi di awal film sudah menjadi penanda bahwa cerita tentang Athirah (2016) dituturkan dari sudut pandang orang ketiga. Sang penutur adalah anak laki-laki tertuanya, Ucu. Namun, penulis skenario Salman Aristo dan Riri Riza justru tak memberi ruang yang besar untuk percakapan verbal dalam film ini – terutama untuk tokoh Ucu. Narasi oleh Ucu juga tak akan dijumpai lagi sampai ujung film.

Ucu (Cristoffer Nelwan) tak perlu banyak bicara lagi karena tuturannya telah diolah menjadi elemen-elemen yang membentuk film ini. Dan seperti Ucu remaja yang sedang belajar memahami keadaan di sekitarnya lewat pengamatan, saya sebagai penonton mesti menyimaknya dengan lekat. Ayah Ucu semakin jarang pulang, minyak rambut selalu melengkapi penampilan ayahnya yang semakin perlente, wajah sang ibu yang sering risau, hingga celetukan teman bermain bola Ucu yang berkata bahwa ayahnya berbagi perempuan. Bersama Ucu, saya merangkai simbol-simbol ini menjadi sebuah informasi: Ayah Ucu telah memiliki istri baru.

Kabar ini pun sampai ke telinga Athirah (Cut Mini) yang menerimanya dengan hati pedih, tapi tanpa aksi melankolis yang tak perlu. Poligami bukan hal baru bagi Athirah. Ibunya sendiri adalah istri keempat. Alasan sang suami memutuskan beristri lagi sudah tak ada gunanya bagi Athirah. Yang ada di hadapannya tinggal pilihan, bertahan atau pergi.

cut-mini-jajang-c-noer

Cerita tentang poligami sebenarnya bukan hal baru di negeri ini. Murni fiksi maupun diilhami kisah nyata. Berdasar pada agama maupun budaya. Inggit Garnasih memilih berpisah dari Soekarno saat menghadapinya. Athirah sendiri memutuskan untuk bertahan. Bahkan sebenarnya Athirah bukan cuma bertahan, ia juga melawan. Alih-alih melempar piring atau menggugat cerai, perlawanannya begitu subtil. Ia memutuskan untuk berdagang kain sutra dan perhiasan.

Kemandirian ekonomi memang jalan yang rasional bagi perempuan untuk melawan penindasan atasnya. Efektif, bahkan. Lewat sepasang giwang emas, sutradara Riri Riza menggambarkan kecerdasan Athirah menggunakan kekuatan ekonomi untuk meraih kemenangan-kemenangan kecil seorang perempuan atas laki-laki. Giwang emas yang dibeli Athirah dari hasil usahanya sendiri itu membantu memenangkan kembali suaminya walau untuk sementara. Saat bisnis sang suami mengalami kesulitan keuangan, Athirah pun dengan anggun menyerahkan seluruh hasil usahanya untuk membantu. Ketangguhan dan keanggunan yang mengingatkan saya akan tokoh Bu Bei – yang juga dimadu – dalam novel Canting karya Arswendo Atmowiloto.

poster-athirah

Jika berangkat dari film ini semata, cerita Athirah menjadi luar biasa karena Ucu. Di kehidupan nyata, Ucu adalah Jusuf Kalla. Anak laki-laki Athirah itu telah mengantarkan usaha yang dirintis bersama suaminya dulu menjadi sebuah korporasi besar. Ucu menjadi politisi penting, dua kali menjabat wakil presiden. Dan hingga saat ini, belajar dari apa yang dirasakan ibunya, Ucu teguh tak berpoligami. Lewat Ucu, perlawanan Athirah seakan telah lengkap. Mandiri secara ekonomi, bertahan menjalani poligami hingga akhir hidupnya, membangun suasana keluarga yang harmonis demi membesarkan anaknya, mendorong sang anak mengembangkan bisnis hingga karir politiknya, dan yang terpenting, membesarkan seorang laki-laki yang tak mengikuti jejak ayahnya berpoligami.

Di luar cerita dalam film, ada dimensi-dimensi lain dalam sosok Athirah Kalla yang tak sempat digali. Tidak ada cerita yang lebih dalam tentang kepiawaian Athirah sebagai pebisnis perempuan atau keterlibatannya yang aktif dalam organisasi perempuan Aisyiyah Muhammadiyah, misalnya. Diadaptasi dari novel Alberthiene Endah berjudul sama, film ini memang sengaja berpegang teguh pada sudut pandang Ucu yang digunakan dalam buku. Sosok Athirah yang begitu puitis dalam film ini tampil dalam konteks seorang ibu, bukan perempuan sebagai individu.

Saat baru saja terasa kuatnya sosok Athirah sebagai perempuan, perannya sebagai ibu dikembalikan dengan tiba-tiba. Saya kembali diingatkan bahwa sesungguhnya film ini bercerita tentang pandangan seorang anak terhadap ibunya. Lalu, ketika tiba saatnya selesai bercerita, film ini berakhir seperti seseorang dalam angkutan umum yang terpaksa menghentikan ceritanya karena sudah sampai di tujuan – begitu terburu-buru. Saat keluar dari studio, saya pun merasa seperti turun dari metromini yang sedang melaju – bingung harus berpijak ke mana.

Bermain Warna dengan The Urban Outliners

Saat itu awal tahun 2015 dan saya masih bekerja sebagai strategic planner di sebuah jaringan toko buku dan penerbit. Pada rapat business review rutin, salah satu asisten manager unit bisnis penerbitan mempresentasikan rencana produknya yang akan rilis tahun itu. “Kami akan mengeluarkan seri buku mewarnai untuk dewasa yang saat ini sedang tren di luar negeri,” ujarnya.

Saya tertegun mendengar kata-kata “buku mewarnai untuk dewasa”. Saat masih kecil pun saya tak merasa bahwa mewarnai adalah kegiatan yang menyenangkan. Terlalu banyak garis yang tak boleh dilanggar. Kreativitas yang hanya bisa disalurkan lewat pemilihan warna pun kadang masih harus mengikuti aturan. Ibu saya sering menegur kalau saya mewarnai kulit manusia dengan warna cokelat atau hitam. “Kok, warnanya gelap? Harusnya pakai warna krem,” ujarnya seakan-akan di dunia ini hanya ada manusia berkulit terang.

Selang beberapa minggu, teman saya bercerita bahwa dia baru saja mengunduh aplikasi baru yang bernama Colorfy di ponselnya. Aplikasi mewarnai untuk dewasa. “It’s so relaxing!” katanya. Rupanya, mewarnai memang sedang tren dan katanya bermanfaat untuk melepas stres. Ternyata jadi orang dewasa begitu memusingkan sampai mewarnai saja bisa jadi hiburan. Karena penasaran, saya sempat mencoba Colorfy. Hati malah tambah tak tenang karena ilustrasi dan warna-warna yang saya inginkan tidak tersedia untuk pengguna gratis.

Satu tahun telah lewat, buku-buku mewarnai untuk dewasa semakin bertumpuk di toko-toko buku, tapi tidak ada satu pun yang menarik. Sampai akhir Agustus yang lalu, terbit enam judul buku mewarnai yang akhirnya menarik perhatian saya.

Tergabung dalam seri The Urban Outliners, ada enam seniman visual yang masing-masing menerbitkan satu buku berisi ilustrasi-ilustrasi karyanya dalam format outline yang bisa diwarnai. Seniman-seniman itu adalah Lala Bohang, Mayumi Haryoto, Muhammad Taufiq (emte), Reza Mustar (Azer), Sanchia Hamidjaja, dan Yudha Sandy. Sebagian komik dan ilustrasi Azer bisa diikuti lewat akun Instagram @komikazer. Saya juga mengikuti ilustrasi Lala Bohang dan Sanchia Hamidjadja lewat akun Instagram mereka. Enam seniman visual itu mengangkat fokus yang berbeda, namun memiliki tema yang sama, yaitu kehidupan urban.

Sanchia Hamidjaja adalah nama pertama yang membuat saya menyerah, lalu menyingkirkan gengsi untuk membeli buku mewarnai untuk dewasa. Namun, sebuah video singkat di akun Instagram salah satu seniman visual itu, yang memperlihatkan cuplikan dari keenam buku The Urban Outliners, membuat saya bimbang. Enam-enamnya menampilkan ilustrasi khas masing-masing yang menyenangkan untuk dinikmati dan menantang untuk diwarnai.

Maka, pergilah saya ke toko buku terdekat dari rumah–sayangnya bukan bagian dari jaringan toko buku di mana saya bekerja dulu. Setelah menimbang-nimbang hingga masak, dengan berat hati saya pulang membawa dua buku saja, Stack City karya Sanchia Hamidjaja dan Lula Lyfe karya Lala Bohang.

Ilustrasi dalam Lula Lyfe bercerita tentang kehidupan sehari-hari seorang gadis remaja yang beranjak dewasa. Obyek gambarnya cewek banget. Dari junk food, kosmetik, barang-barang fesyen, bermacam-macam bentuk kue, hingga tumpukan baju dan piring yang belum dicuci. Ada Lula yang sedang bermain gawai di kamar mandi, berjuang mengecilkan perut agar bisa memakai crop top, dan mengacak-acak kulkas dalam balutan daster.

Karena hampir semua ilustrasinya berbentuk adegan dan obyek-obyek dalam hidup Lula, bidang pewarnaannya cukup luas. Saya mencoba mewarnai ilustrasi pertama dalam buku ini dengan pensil warna kecil dan hasilnya cukup bikin pegal. Mungkin krayon bisa jadi pilihan yang lebih baik karena sapuannya lebih luas dan bisa menampilkan sisi playful dari ilustrasi-ilustrasi Lala. Obyek yang paling saya sukai dari Lula adalah rambutnya yang pendek bergelombang–mudah untuk diwarnai dalam berbagai warna dengan gaya highlight atau ombre.

Berbeda dengan Lula Lyfe, Stack City mengangkat tema urban yang lebih luas. Sanchia mengambil obyek-obyek yang ditemui dalam keseharian hidup di kota kemudian menggambarnya berulang-ulang sehingga membentuk “tumpukan”. Ada toples-toples berisi jajanan yang biasa kita temui di warung, rumah-rumah warga yang berjejalan, kolam renang berisi anak-anak, gedung-gedung tinggi Jakarta diselingi asap polusi, ikan dalam plastik berisi air, dan tanaman dalam pot. Semua mengingatkan akan kepadatan dan keterbatasan ruang gerak yang dialami masyarakat kota.

Keterbatasan ruang gerak ini juga terasa saat mencoba mewarnainya. Bidang pewarnaan dalam Stack City sangat sempit dan penuh dengan detail. Saya memutuskan untuk menggunakan spidol yang ujungnya tipis agar bisa menjangkau detail-detail dalam Stack City. Hanya saja, ketika menjumpai obyek dengan bidang yang luas, agak sulit mengendalikan sapuan spidol sehingga di beberapa bagian bisa terdapat lebih dari satu pulasan dan warna jadi kurang merata.

Dua buku mewarnai ini memiliki tingkat kesulitan dan daya tarik yang berbeda. Ilustrasi Lala cenderung lebih mudah dan menyenangkan untuk diwarnai karena bisa bereksperimen dengan warna-warna pastel maupun neon. Sedangkan ilustrasi Sanchia, meski membutuhkan lebih banyak kesabaran untuk mewarnainya, memiliki dimensi ruang yang memikat bagi saya. Baik Stack City maupun Lula Lyfe juga menyediakan bidang polos–disengaja atau pun tidak–yang bisa digunakan untuk doodling.

Keenam buku The Urban Outliners ini layak untuk dikoleksi–kalau anggaran mencukupi. Untuk saya sih, sementara ini cukup dua dulu. Dua buku ini saja mungkin butuh waktu seumur hidup untuk diwarnai hingga selesai. Bukan karena sulit, tapi lebih karena saya ini cepat bosan. Bermain-main dengan buku-buku ini terasa seperti berkolaborasi dengan seniman-seniman penciptanya. Jika pun tak sempat diwarnai, seluruh ilustrasi The Urban Outliners tetap asyik dinikmati dalam bentuk outline hitam putih.

Tiga Dara Melintas Masa

Setelah lima belas hari bertahan di hanya satu layar studio, Tiga Dara hasil restorasi 4K mengakhiri masa tayangnya di Bandung. Bukan waktu yang lama jika dibandingkan dengan waktu penayangan delapan minggu yang dicapainya dulu, ketika dirilis 59 tahun lalu. Namun, sedikit lebih lama dari dugaan saya yang hanya sepuluh hari saja. Beruntung, saya sempat menikmatinya di minggu pertama pemutaran.

Tiga_dara_cover

Tiga Dara berkisah tentang tiga gadis muda bersaudara, yang tinggal bersama sang ayah, Sukandar (Hassan Sanusi) dan nenek mereka (Fifi Young). Ibu mereka sudah meninggal. Nunung (Chitra Dewi), anak gadis tertua, sudah berumur 29 tahun, tetapi belum juga menikah. Ia selalu sibuk di dapur, mengurus ayah dan kedua adiknya, Nana (Mieke Wijaya) dan Neni (Indriati Iskak).

Sikap Nunung yang kerap judes terhadap laki-laki dan tak pandai bergaul merisaukan sang nenek yang sudah semakin tua. Atas permintaan Nenek, Nana dan Neni membawa kakak mereka ke pesta dan mengenalkannya kepada teman-teman mereka, tetapi Nunung malah semakin merengut karena tak suka pesta. Suatu kali, ia malah minta diantar pulang duluan oleh Herman (Bambang Irawan), seorang mahasiswa teman Nana.

Sampai pada suatu hari, Nunung yang sedang menyetop becak tak sengaja terserempet oleh skuter yang dikendarai seorang pemuda bernama Toto (Rendra Karno). Merasa bersalah, Toto menjenguk Nunung yang sakit kakinya. Berkali-kali Toto datang ke rumah untuk mendekati Nunung, namun selalu ditolak. Akibatnya, Toto malah lebih akrab dengan Nana.

Meskipun tahu Toto datang untuk Nunung, Nana tetap berusaha merebut hati Toto dengan minta diajarkan naik skuter hingga mengajak nonton ke bioskop. Nana dan Toto semakin dekat sampai membuahkan sebuah rencana pertunangan. Mendengar itu, Nenek tak setuju. Ia khawatir jika “dilangkahi” Nana, Nunung akan selamanya jadi perawan tua.

 

Lintas Generasi

Saat menonton, mau tak mau saya teringat Eyang Putri, ibu dari mendiang Mama saya. Beliau adalah salah satu penggemar berat film Tiga Dara. Saat menonton film ini Eyang Putri baru berumur 21 tahun, tetapi sudah menikah. Mendiang Mama belum lahir, namun kedua kakaknya sudah. Jika berpatokan pada usia Eyang Putri saja, memang terasa bahwa usia Nunung sudah begitu jauh dari usia pernikahan normal untuk perempuan saat itu.

Mari kita maju 59 tahun. Sepupu saya, juga seorang perempuan dan cucu Eyang Putri, hanya satu tahun lebih muda dari saya. Tepat seumur Nunung. Dia belum menikah dan sedang kelabakan menghadapi pertanyaan dari segenap anggota keluarga besar kami. Setelah menyelesaikan gelar sarjana di bidang komunikasi, sudah hampir tujuh tahun dia hidup mandiri di Jakarta. Lima tahun terakhir berkarir di salah satu perusahaan media terbesar di Indonesia dan dari penghasilannya, dia bisa menyumbang sedikit-sedikit untuk adik dan orang tuanya serta mencicil mobilnya sendiri. Namun, semua itu tetap tak memuaskan bagi orang-orang di sekitarnya. “Jadi kapan giliranmu? Si A saja yang lebih muda dari kamu saja sudah menikah,” adalah satu dari banyak pertanyaan yang sering dihadapinya.

Menarik bahwa setelah lebih setengah abad sejak Tiga Dara dirilis, orang-orang masih saja usil mengurusi perempuan yang berusia 29 tahun dan belum menikah. Padahal, tiga generasi sudah lewat. Dan selama itu, banyak perempuan yang menikah melewati usia itu membuktikan bahwa usia jelas-jelas bukan masalah. Perempuan yang masih melajang melewati usia itu pun sangat banyak sekarang. Namun, kecemasan tentangnya belum juga menghilang sehingga sebagian besar perbincangan dalam film ini masih hidup di tengah penontonnya, meski tanpa reka ulang.

Hal lain yang membuat film ini begitu mengasyikkan adalah memerhatikan perbedaan sikap yang mencolok antara generasi yang diwakili tokoh-tokohnya. Tengoklah Nunung yang masih berkonde dan berkebaya, sedangkan adik-adiknya telah berpakaian modern dengan setelan rok. Di sebuah adegan, Neni bahkan diperlihatkan memakai celana dan bermain sepatu roda.

Saya pun teringat cerita mendiang Mama. Beliau pernah bercerita bagaimana kesalnya melihat gaya berpakaian Eyang Putri. Saat Mama duduk di bangku sekolah, Eyang Putri masih berkonde dan berkebaya lengkap. Kala itu Mama menganggap bahwa kebaya dan konde itu kuno. Beliau pun merasa malu karena ibunya terlihat sangat tua dan kuno jika dibandingkan dengan ibu dari teman-temannya yang sudah memakai rok.

Pandangan Mama terhadap perempuan berkebaya saat itu kurang lebih selaras dengan penggambaran Nunung di dalam film. Sikapnya terhadap laki-laki sangat konservatif, berbeda jauh dengan Nana dan Neni yang lebih berani mendekati laki-laki. Nunung tak suka pesta dan merasa terlalu tua untuk bergaul. Ia bahkan menganggap dirinya sendiri seperti seorang tante yang mengawasi anak-anak sedang berpesta.

Perbedaan generasi juga terlihat dari cara Sukandar dan Nenek menghadapi perilaku tiga gadis muda itu. Nenek yang tidak setuju dengan rencana pertunangan Nana terang-terangan mengeluh tentang perilaku anak muda yang semaunya sendiri. Tak bisa membedakan antara tindakan yang bisa diputuskan sendiri dengan yang membutuhkan persetujuan orang tua, katanya. Ia digambarkan sebagai orang tua yang masih merasa perlu untuk turun langsung menentukan pilihan terbaik bagi anak-anaknya.

Sedangkan Sukandar sebagai orang tua yang lebih modern, tampil lebih moderat. Ia tak banyak turut campur dalam pilihan anak-anaknya. Meski sama-sama tak setuju dengan pertunangan Nana, ia tak serta merta menunjukkan ketidaksenangannya dengan jelas. Ia lebih memilih pendekatan tidak langsung seperti membuat Toto cemburu dengan keadaan Nunung yang sedang berlibur ke Bandung dan pura-pura menugaskan Toto untuk menengok putri sulungnya.

 

Proyek Komersial

Rilis tahun 1957, Tiga Dara disutradarai oleh Usmar Ismail sebagai proyek komersial untuk menyelamatkan Perfini dari kebangkrutan. Mengadopsi gaya film musikal Hollywood yang sedang marak kala itu, tak heran jika film ini langsung meraih sukses komersial dan begitu populer, terutama di antara perempuan muda di jamannya.

Karena ditujukan sebagai film populer, jalan cerita Tiga Dara jauh dari rumit. Kisah ini pun tak berakhir dengan dramatis penuh air mata. Malah, cenderung komikal. Nunung dan Nana akhirnya berakhir bahagia dengan pasangan masing-masing.

Usmar Ismail memang dikabarkan merasa malu membuat film ini karena tidak mengusung idealisme kebangsaan, tetapi tak berarti film ini digarap sembarangan. Dialognya masih mengalun tanpa canggung di telinga, tokoh-tokohnya masih bisa membuat tertawa, bahkan masalah yang dihadapi tokohnya masih dekat dengan keseharian perempuan muda masa kini. Tiga Dara menyimpan kecantikan yang tetap terjaga melintas masa, membuktikan integritas dan kepiawaian Usmar Ismail sebagai seorang pencipta film.

CletHXRUgAAITab

Setelah lewat lebih setengah abad dari saat pertama kali dirilis, menonton film ini terasa seperti menjelajah dengan mesin waktu. Baik elemen dalam film maupun cerita di balik pembuatannya menjadi rekaman perjalanan modernisasi yang terjadi di Indonesia. Segala kemiripan dan ketidakmiripannya dengan keseharian kita saat ini sangat menarik untuk didiskusikan, terutama antara perempuan Indonesia dari berbagai generasi yang berbeda.

Sayang, saya tak dapat menonton dan mendiskusikan film ini bersama Mama yang telah meninggal dunia, maupun Eyang Putri yang sudah semakin tua. Jika bisa, tentu akan jadi pengalaman yang jauh lebih menyenangkan.

Dalam Perburuan Seri Sekolah Kehidupan

Buku How To Be Alone karya Sara Maitland menghampiri saya pada suatu siang yang hujan rintik-rintik di Aksara Citos, dua tahun sekian bulan yang lalu. Sayang, perjumpaan kami yang singkat itu tidak diakhiri dengan pulang bersama.

Tak ingat jelas kenapa saya memutuskan untuk tidak membawanya pulang. Kemungkinan besar karena sedang berhemat. Atau mungkin alasan lain. Entahlah. Padahal, kala itu, saya sedang butuh-butuhnya panduan untuk hidup sendiri pasca perceraian.

Keputusan tak membawanya pulang kemudian jadi penyesalan yang membayangi saya karena setelah perjumpaan tadi, sulit sekali menemukannya di toko buku. Maka, dimulailah perburuan buku bersampul oranye itu. Selama dua tahun terakhir, setiap mengunjungi toko buku Kinokuniya atau Aksara, saya selalu menyempatkan diri mencarinya. Terutama jika ada obral buku yang diadakan toko buku Periplus, dengan semangat membara saya membongkar tumpukan buku-buku obral dengan harapan bisa menemukannya (dan tentu, membelinya dengan harga yang lebih murah).

Pencarian selama dua tahun itu bukan tanpa hasil. Meski belum bertemu dengan si oranye, saya malah berkenalan dengan judul-judul lain dalam seri The School of Life yang menaunginya. Seri yang digagas Alain de Botton ini menyatakan dirinya sebagai buku self-help (swabantu). Itulah mengapa semua judul bukunya diawali frase ‘How To’.

Yap, self-help. Atau self-improvement. Atau segala narasi berbunga-bunga yang seakan menganggap semua masalah pembacanya berawal dari kemalasan semata sehingga si pembaca tak layak berkeluh kesah karena toh, masalah yang dialaminya akan hilang tak berbekas jika mengikuti arahan yang dibuat si penulis.

Hmm, agaknya yang terakhir ini hanya prasangka saya saja karena ternyata, bacaan self-help tidak perlu terkesan menyepelekan atau menggurui. Atau seperti yang disebutkan di sampul belakang tiap buku dalam seri The School Of Life, tidak perlu menjadi dangkal dan naif.

Seperti layaknya bacaan self-help, seri ini tetap berperan sebagai panduan
menghadapi permasalahan hidup di dunia modern. Hanya, narasinya tidak disajikan dalam bentuk tips atau langkah-langkah praktis, melainkan kajian yang merefleksikan hakikat dan membuka sudut pandang pembaca atas topik-topik yang diangkatnya.

Masing-masing judul, yang ditulis oleh berbagai penulis dari berbagai latar belakang keahlian, memiliki nada dan gaya bertutur yang berbeda. How To Think More About Sex (ditulis oleh penulis dan ahli filsafat Alain de Botton) mengeksplorasi sudut pandang manusia tentang seks dan kasih sayang menggunakan referensi filsafat dan literatur. Lain halnya dengan How To Develop Emotional Health (ditulis oleh psikolog Oliver James) yang membahas tentang hakikat kesehatan emosional berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan penulisnya.

Lima belas judul yang sudah terbit menyuguhkan berbagai topik dari mulai kerisauan tentang uang hingga bagaimana bertahan hidup di kota besar. Kekhasan penulisan dan topik-topiknya yang tanpa basa-basi menyentuh kerisauan manusia modern menjadikan seri ini bacaan yang asyik dan layak dikoleksi.

Collage 2016-05-27 15_58_49-1

Dalam dua tahun, sudah lima judul yang berhasil saya kumpulkan: How To Age, How To Connect With Nature, How To Think More About Sex, How To Deal With Adversity dan How To Develop Emotional Health. Lima judul yang sudah duduk manis di rak buku saya itu tentu kurang lengkap tanpa judul yang mengawali perkenalan saya dengan seri sekolah kehidupan ini: How To Be Alone.

Setelah kelima judul itu, saya meneruskan pencarian si oranye itu di berbagai toko buku di Jakarta–bahkan di acara Big Bad Wolf Books Jakarta bulan lalu–namun ia belum juga menampakkan diri. Sampai akhirnya saat makan siang di Setiabudi Supermarket Bandung akhir pekan lalu, tanpa sengaja saya menemukannya. Terselip di antara buku-buku novel obral di toko buku Periplus.

Perburuan buku tentang bagaimana menikmati kesendirian yang berawal saat saya memulai hidup sendiri di Jakarta malah berakhir di Bandung saat saya sudah tak lagi sendiri. Sebenarnya ini bisa saja jadi sebuah akhir cerita yang manis, tapi setelah dua tahun terlewati, perburuan ini tidak lagi menyangkut satu judul buku saja. Masih ada sembilan judul buku lagi yang belum ditemukan.

Perburuan masih jauh dari selesai. Ini baru benar-benar dimulai.