Mengingat Kembali Bali yang Sejati

Ubud kini tak lagi sehening dulu. Kafe-kafe dan butik-butik trendi telah bermunculan di sudut-sudut kota kecil itu layaknya jamur di musim hujan. Akan tetapi, di tengah riuhnya turis yang celingak-celinguk mencari arah di Jalan Raya Ubud, sebuah gapura megah masih berdiri, menjadi batas antara ruang kota yang bergerak cepat menuju modernitas dengan ruang gerak tradisi yang menjadi semakin terbatas.

Gapura itu adalah penanda masuk ke kompleks Museum Puri Lukisan. Usianya kini telah melebihi enam dekade. Seperti namanya, ‘puri’, kompleks bangunan ini memang lebih tepat jika disebut istana daripada museum atau galeri. Setelah melewati gapura megah yang hampir tanpa henti digunakan sebagai latar foto oleh para turis swafoto, pengunjung disambut sebidang luas taman yang dihiasi tak hanya tetumbuhan dan kolam-kolam lotus, tapi juga beragam patung dewa-dewi Hindu.

Empat ruang pamer terletak di sudut-sudut kompleks bangunan. Bagi mereka yang baru pertama kali berkunjung, menikmati koleksi dalam museum ini memang lebih baik dilakukan berurutan seperti yang disarankan dalam lembar panduan pengunjung. Mulailah dari Galeri Pitamaha di pojok utara kompleks, di mana koleksi-koleksi tertua museum ini ditempatkan. Salah satunya adalah Adi Parwa, dibuat tahun 1678, yang bercerita tentang Bima saat bertapa ke Gunung Manaka.

Yang menarik, ada setidaknya dua lukisan yang memiliki fungsi praktis. Naga Anantaboga, dibuat tahun 1799, adalah secarik umbul-umbul, sedangkan Lelintangan, yang tidak diketahui tahun pembuatannya, digunakan sebagai pedoman pertanggalan Bali. Pertanggalan dalam Lelintangan ini digunakan untuk mengetahui nasib dan riwayat hidup. Keduanya seolah menjadi bukti yang kuat bagaimana seni adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat Bali, bukan sekadar pelengkap atau penghibur. Seni bisa ditempatkan secara praktis sebagai bagian dari sebuah ritual, juga menjadi cara para tetua meneruskan kebijaksanaan kepada generasi selanjutnya.

Ruang pamer di pojok barat menaungi koleksi-koleksi Ida Bagus Made, pelukis legendaris Bali, sedangkan bagi yang menggandrungi cerita-cerita wayang, dapat langsung menyambangi ruang Galeri Wayang di timur. Galeri yang terakhir tak kalah menarik dari ketiga ruang pamer lainnya. Bangunan yang terletak di pojok selatan ini biasanya menjadi tempat diadakannya ekshibisi temporer atau dipamerkannya koleksi terbaru museum.

Terakhir kalinya saya berkunjung ke sana, sedang diadakan pameran hasil karya para pelukis dari Banjar Keliki Kawan. Corak lukisan mereka ditandai oleh detail-detail berukuran miniatur dan lapisan-lapisan gambar yang tersusun vertikal untuk menampakkan kedalaman dimensinya, yang tertuang pada medium berukuran relatif kecil.

Lukisan Bali Kini karya I Wayan Sugita menegakkan bulu kuduk saya. Lapisan terluarnya, dalam warna-warna yang terang, menggambarkan sebuah acara tarian tradisional Bali. Akan tetapi, orang-orang yang mengelilingi para penari berpakaian modern–dengan tank top dan celana pendek. Sebagian menyingkap kain para penari, mengintip kaki-kaki jenjang mereka. Sebagian lagi menenggak minuman dalam botol, bercinta, dan menari dengan gerakan-gerakan yang mudah ditemukan di bar dan klub malam. Di bagian yang lebih gelap dan tersembunyi, ada orang-orang dengan pakaian adat Bali, menegakkan poster-poster bernada protes: “Kembalikan Baliku padaku!”

Apakah penggambaran itu terasa familier bagi Anda? Jika ya, mungkin sudah saatnya menimbang-nimbang kembali destinasi wisata Anda di Bali. Mari mengingat kembali bahwa Bali bukan cuma tentang pantai, apalagi hanya tentang ingar-bingar pesta. Bali adalah tentang budaya. Bali adalah tentang seni.

Advertisements

Diskusi Tentang Kota yang (Katanya) Kreatif

Tidak banyak acara diskusi di Bandung. Maaf, ralat. Tidak banyak acara diskusi yang menarik perhatian saya di Bandung. Maka, ketika tahu bahwa ada sebuah acara diskusi berjudul “Apanya Kota Kreatif?” di Spasial, Bandung, bulan Desember lalu, saya memberanikan diri untuk datang.

Judul diskusinya provokatif, setidaknya menurut saya. Hati kecil saya seakan berteriak, “Akhirnya ada juga yang bertanya hal yang sama dengan saya!” Atau jangan-jangan, sebenarnya banyak warga (kreatif) Bandung yang punya pertanyaan sama di dalam hati, namun diam-diam saja karena Bandung sudah keburu resmi bergabung di UNESCO Creative City Network sebagai kota desain atau putus asa duluan berhubung sudah dipimpin arsitek–yang notabene adalah salah satu pelaku industri kreatif–tapi masih begini-begini saja.

Diskusi itu sekaligus juga menjadi kali pertama saya menginjakkan kaki ke Spasial bukan untuk membeli kopi. Jauh, jauh, jauuuuh di dalam lubuk hati–selain bertanya-tanya tentang ke-kreatif-an kota ini–saya juga merasa geumpeur untuk masuk ke salah satu ruang komunitas yang sedang hip di Bandung ini. Alasannya? Satu, saya merasa ketuaan. Dua, saya merasa tempat itu agak eksklusif, menilai dari tatapan mata manusia-manusia di sana–yang saling kenal dan saling sapa satu sama lain–kepada saya.

Tapi ya, sudahlah. Saya sudah keburu jadi alien bagi semua tempat yang ada di Bandung–kecuali, mungkin, Toserba Griya di Jalan Pahlawan dan Stasiun Kereta Api di Kebon Kawung–berhubung hampir sembilan tahun saya meninggalkan kota ini. Jadi, saya pun menguatkan niat, berlatih senyum, dan memberanikan diri untuk muncul sebagai pengamat di sana.

***

Yang ada di belakang inisiatif diskusi ini adalah teman-teman dari Kolektif Agora, sekelompok anak muda pemerhati kota (dan kalau saya tidak salah, adalah mahasiswa jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota). Mereka menggunakan media daring dan diskusi sebagai corongnya. Ada tiga pemantik diskusi dari latar belakang berbeda yang mereka hadirkan malam itu.

Tita Larasati adalah pengajar di bidang desain dan baru saja dilantik menjadi Ketua Bandung Creative City Forum (BCCF). BCCF adalah sebuah organisasi lintas komunitas yang, menurut Tita, didirikan untuk membuat solusi kota dengan memanfaatkan kreativitas dan saat ini menjadi think tank dan pelaksana kebijakan-kebijakan kota yang bernada kreatif. Organisasi ini juga yang ada di belakang tim sukses Bandung saat mencalonkan diri untuk masuk ke jejaring kota kreatif UNESCO tiga tahun lalu. Ketua BCCF pada periode pertama pendiriannya adalah Ridwan Kamil. Ketua periode kedua, Tb. Fiki Satari, kini menjadi Ketua Indonesia Creative City Network.

Pemantik kedua adalah Ardo Ardhana, salah satu pendiri dan pengelola Spasial, tempat diskusi diadakan. Ardo sudah malang melintang di skena kreatif Bandung sebagai pekerja seni sejak awal 2000-an. Yang ketiga adalah Fikri Zul Fahmi, dosen program studi Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung (ITB), sedangkan moderasi diskusi dilakukan oleh Panca Dwinandhika Zen, seniman tato dan pemerhati skena kreatif Bandung.

Awalnya, diskusi berjalan suam-suam kuku dengan obrolan utara-selatan yang santai khas anak-anak Bandung. Pembicaraan meloncat-loncat dari pandangan Ardo mengenai adanya kecenderungan pengeksklusifan diri oleh kalangan kaum kreatif, ke perdebatan oleh Tita dan Fikri mengenai apakah tradisi lokal dapat terus berjalan beriringan dengan kreativitas–yang identik dengan modernitas dan pemikiran-pemikiran di luar pakem, ke pemaparan Tita mengenai bagaimana BCCF mendorong ekosistem kreatif di Bandung untuk menjangkau sudut masyarakat di luar lingkaran kreator, hingga kekukuhan Fikri bahwa “kota kreatif” sebenarnya sekadar alat untuk mencapai tujuan kota dan bukannya tujuan kota itu sendiri.

Ardo yang terbiasa dengan gerakan komunitas punya titik perhatian yang spesifik pada individu-individu kreatif di Bandung dan tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal bersifat strategis. Malam itu ia mengungkapkan keresahannya mengenai pelabelan “kreatif” yang menurutnya malah bisa menimbulkan kesenjangan antara “kaum kreatif” dengan masyarakat lain. Menurutnya, yang penting adalah orisinalitas, dan orang-orang yang disebut kreatif itu sebenarnya sekadar orang yang konsisten melakukan apa yang dia suka dengan sentuhan orisinalitas itu.

Tita, di sisi lain, memandang bahwa aktivisme bersifat kreatif sudah saatnya dibawa ke tataran formal, yaitu ke tingkat pemangku kebijakan. Ia memaparkan apa-apa saja yang sudah dilakukan oleh BCCF selama hampir sepuluh tahun kehadiran mereka di Bandung. Beberapa program yang terbaru adalah pengembangan kreativitas masyarakat buruh tekstil dan pembuatan tengaran airborne.bdg sebagai branding kota.

Fikri, di sisi yang lain lagi, cenderung menihilkan label “kota kreatif”. Menurutnya, “creative city” tak ubahnya dengan jargon-jargon lain seperti “smart city” atau “sustainable city”, yang akan bergerak sesuai dengan perkembangan tren dunia. Maka, yang penting bukan diiyakannya narasi kota kreatif oleh seluruh warga (dan disalinnya kerangka kota kreatif yang dicontohkan Bandung oleh kota-kota lain di Indonesia), tetapi strategi pemerintah untuk mencapai kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup warganya.

***

Diskusi mulai memanas ketika sesi pertanyaan dimulai. Saya hanya menyorot beberapa yang mewakili pertanyaan saya, berhubung saya sendiri tidak kebagian giliran untuk bertanya. Mungkin tidak terlihat oleh moderator karena saya duduk agak ke pinggir.

Salah seorang yang hadir menyetujui pandangan Ardo mengenai pengeksklusifan yang, sengaja atau tidak sengaja, muncul di skena kreatif Bandung. Seperti saya, dia juga merasakan semacam keengganan untuk masuk ke Spasial karena adanya kesan eksklusif. Ironis, menimbang ide awal Ardo mendirikan Spasial adalah justru untuk mewadahi berbagai bentuk ide kreatif tanpa kuratorial yang ketat.

Si penanggap juga melontarkan keresahan mengenai diresmikannya nomenklatur “kota kreatif”, baik oleh pemerintah daerah dan negara maupun organisasi internasional seperti UNESCO. Melembaganya kata “kreatif” dikhawatirkan malah meredam letupan-letupan kreatif baik secara individu maupun di kantong-kantong komunitas.

Fikri menanggapinya secara normatif. Menurutnya, pemerintah harus membuka akses dan menghadirkan mekanisme agar pihak-pihak di luar pemerintah dapat bertukar ide dengan leluasa. Tita sendiri berkukuh bahwa program-program yang dilaksanakan BCCF sudah mengakomodasi pemberdayaan kreativitas kepada masyarakat umum dan sudah melewati proses penelaahan untuk memastikan bahwa program-program itu menciptakan dampak di masyarakat, salah satunya melalui kegiatan Design Action.

Seorang yang lain melontarkan pertanyaan menarik: berapa lama hype “kota kreatif” akan bertahan? Fikri menjawab, bertahannya “kota kreatif” akan mengikuti gelombang ekonomi dunia, seperti bagaimana dulu manufaktur membawa modernisasi dan menciptakan peradaban baru. Di negara berkembang, menurut Fikri lagi, mungkin akan sulit bertahan karena kurangnya perhatian pada proses riset dan pengembangan.

Beberapa pertanyaan lain seperti hubungan kota kreatif dengan konsumerisme, indikator keberhasilan kota kreatif, dan inti permasalahan dari diskusi malam itu sendiri–manfaat yang utuh dari kota kreatif bagi seluruh warganya–belum mendapat jawaban yang memuaskan. Ardo sendiri melontarkan pertanyaan untuk Tita dan Fikri mengenai pengelolaan Bandung sebagai kota kreatif: siapa yang akan lebih banyak mengawal dan mengisi wacana kreativitas di Bandung, akademisi atau pemerintah?

***

Ada beberapa hal dari diskusi ini yang menjadi renungan saya. Yang pertama adalah terbentuknya dua sudut pandang pembentukan kreativitas yang terjadi saat ini di Kota Bandung, dan mungkin juga kota-kota lainnya di Indonesia seiring dengan geliat ekonomi kreatif yang didorong pemerintah. Ada yang terbentuk secara organik dan yang terbentuk melalui kebijakan pemerintah.

Dengan didengungkannya ekonomi kreatif sebagai salah satu strategi pemerintah, wajar jika apa yang dulu berasal dari akar rumput kemudian dilembagakan di tataran kebijakan. Akan tetapi, “kaum kreatif” Bandung yang sedari dulu terbiasa dengan gerakan bawah tanah dan inisiatif komunitas menjadi tak nyaman dengan jarak yang semakin sempit antara mereka dengan pemerintah. Mungkin, tak jauh berbeda dengan perasaan jengah saat harus bertempelan badan dengan orang asing di angkutan umum. Lebih buruk lagi, sebagian mungkin merasa bahwa ruangnya diinvasi oleh pemangku kebijakan, yang dianggap tak betul-betul mengerti tentang kreativitas karena tidak benar-benar hidup di dalamnya.

Ini berbeda dengan, misalnya, di Jakarta. Di sana, jarak antara pelaku dunia kreatif dan pemerintah tidak terlampau jauh. Salah satu contohnya adalah Dewan Kesenian Jakarta, yang meski otonom, tetap bermitra dengan pemerintah. Dan meski bermitra dengan pemerintah, masih terhubung dengan “kaum kreatif” di akar rumput maupun masyarakat umum sekalipun.

Selanjutnya, mungkin sejatinya Bandung bukan “kota kreatif”, hanya saja dihidupi oleh “kaum-kaum kreatif”. Menurut saya, ada konsekuensi yang dibawa oleh jargon “kota kreatif”, yaitu segala hal yang serba terstruktur dan strategis. Sebagai kota, sebagai sebuah entitas yang dibentuk secara hukum dan memiliki instrumen pengelola, yang memiliki berbagai jenis warga dengan berbagai jenis kepentingan dan keinginan, tentu membutuhkan suatu keteraturan dan perencanaan untuk mencapai tujuan.

Sialnya, kebanyakan warga Bandung itu tidak suka diatur-atur. Hirup aing, kumaha aing. Juga tidak suka berencana terlalu strategis. Kumaha isuk we lah. Tapi mungkin, malah ketidakpastian, ketidakberencanaan ini yang membuat warga Bandung terkesan kreatif. Nah, pertanyaannya, masih perlukah kreativitas dilembagakan oleh pemerintah kota?

Yang terakhir, pernyataan Fikri mengenai “kota kreatif” sebagai respons terhadap gelombang ekonomi global cukup menghantui saya. Selain itu, Fikri juga mengemukakan bahwa sesuatu yang kita anggap kreatif hari ini, bisa saja menjadi tradisi dalam sepuluh tahun ke depan. Ini, menurut saya, bukan cuma masalah tren ekonomi. Kreativitas dan kebudayaan punya hubungan kompleks yang saya belum berani definisikan di sini. Keduanya bukan benda, tak bisa dimiliki oleh satu pihak saja, merupakan proses dinamis yang bertumbuh bersama peradaban manusia, dan saling memengaruhi.

Betul, mungkin tren ekonomi kreatif ini akan kehilangan pamor dalam beberapa tahun lagi. Betul, pada akhirnya hasil-hasil kreativitas itu bisa menjadi bagian kebudayaan, tradisi, ataupun norma. Akan tetapi, kreativitas bisa jadi akan tetap ada–atau sudah seharusnya tetap ada–sebagai sebagai salah satu cara manusia mengembangkan peradabannya. Sehingga, sebelum lebih lanjut mempertanyakan manfaat yang utuh dari suatu kota kreatif, saya pun kembali ke pertanyaan: apa definisi dan pelembagaan terhadap istilah-istilah seperti “kota kreatif” atau “kaum kreatif” itu masih diperlukan?

Menikmati Mi Instan Hasil Mutasi

Apakah sebuah pameran karya seni harus dilakukan di sebuah galeri seni? Tidak juga. Ada banyak ruang alternatif yang bisa digunakan untuk memamerkan karya-karya seni. Lobi hotel, kafe, pusat perbelanjaan, gudang tak terpakai, bahkan di luar ruang seperti sisi trotoar atau hutan sekalipun.

Selama bulan Januari ini, sebuah ruang kecil di dalam Tobucil, toko buku dan ruang komunitas, dijadikan rumah sementara untuk Alam Taslim dan kawan-kawan untuk memamerkan Igor. Ngomong-ngomong, siapa sih Igor itu?

Igor adalah monster mutan yang berasal dari mi instan, dilahirkan Alam di sebuah warung kopi di Jakarta tiga tahun lalu. Mi instan keriwil-keriwil bersatu menjadi tubuh dan tentakel Igor, sedangkan potongan-potongan cabai rawit menjadi gigi-gigi tajamnya. Matanya cuma satu: (telur) mata sapi. Kepalanya ditutupi mangkuk bakso bergambar ayam jago yang terbalik.

Igor yang tampil di Tobucil bukan hanya lahir dari tangan Alam sendiri, tapi juga seniman-seniman lain yang berkolaborasi dengannya. Awalnya, kolaborasi dilakukan bersama sembilan orang kawan Alam dengan merespons patung Igor berukuran mini, yang dibuat oleh I Komang Adiartha. Teman-teman yang ikut berkolaborasi pun berkembang sampai 22 orang sampai saat ini.

Untuk keperluan pameran, ruang berdinding dan berlantai putih yang biasa digunakan untuk workshop ini tidak diubah dari tampilan sehari-harinya. Kebanyakan karya kolaborasi yang dipajang adalah karya seni grafis sehingga bisa langsung digantung di tiga bidang dinding yang melingkungi ruangan. Tidak ada penataan atau pencahayaan khusus, semuanya serba sederhana. Dalam printed art yang sudah dibingkai rapi, Igor tampil jadi mandala, dalam bentuk piksel, jadi monster yang kawaii, dan macam-macam lagi.

Selain karya seni grafis, patung-patung mini Igor dari kayu albesi dipajang di sebuah meja kecil dekat dinding. Hasil kolaborasi dengan Etalase Ubud, yaitu Igor yang menjelma jadi aksesori, hanya ditampilkan satu buah contohnya saja. Sisanya hanya diperlihatkan dalam bentuk foto. Sayang sekali, padahal aksesori-aksesori itu yang membuat saya ingin datang dan melihat langsung pameran Igor Kolaborasik ini.

Pada salah satu bidang dinding, terpampang peta warung mi se-Bandung, yang jalan-jalannya terbentuk dari tentakel-tentakel Igor. Sudah ada beberapa nama warung mi tersohor yang dicetak, tapi pengunjung juga bisa ikut menambahkan nama-nama warung andalannya pada peta itu. Sayangnya, peta itu kurang besar, jadi agak sulit mencari lokasi untuk ditempelkan nama-nama warung.

Bersebelahan dengan peta, ada meja dan rak gantung berisi berbagai merchandise yang bisa dibeli langsung di lokasi. Sebuah scarf lucu, yang motif batiknya tersusun dari untaian mi dan potongan cabai rawit, menarik perhatian saya. Sepertinya, Igor memang dimaksudkan untuk bermutasi jadi rupa-rupa merchandise. Pertimbangan yang logis, mengingat mi instan sudah jadi bagian dari budaya populer di Indonesia dan tampilan Igor yang memang menarik mata.

Entah disengaja atau tidak, sudut tempat merchandise ini berdekatan dengan… dapur! Jadi bikin kepengin masak mi instan.

Meski tempatnya sederhana dan belum bisa memancing interaksi pengunjung, pameran ini tetap menarik. Hasil karya Alam dan kawan-kawan punya cukup potensi untuk menarik pengunjung dan fleksibel untuk dipamerkan, tanpa kebutuhan ruang yang rumit. Semoga saja Igor bisa mampir kembali ke Bandung dalam bentuk pameran yang lebih interaktif. Atau, apa mungkin Igor akan segera menyapa Bandung lewat etalase-etalase toko? Hmmm, bisa jadi.

Tari dan Arsitektur dalam Dance City, Density!

Tak ada panggung. Penonton berkumpul di sebuah sudut, di sebelah kiri pintu masuk galeri NuArt Sculpture Park, dekat patung kuda berjudul Rebellious. Ada yang berdiri, ada yang berjongkok, ada yang duduk seadanya di lantai batu, mengitari sebuah taman kecil yang minim cahaya. Seorang penari berjalan-jalan di antara pepohonan yang menjulang di taman itu, seakan terkesima. Kemudian, satu per satu penari lain bermunculan dari balik pepohonan.

Empat penari berlari menaiki undakan tanah dengan susah payah untuk kemudian tergelincir kembali ke bawah. Jatuh bergulingan di tanah, menabrak pohon-pohon yang ada di sekitar mereka, untuk kemudian bangkit dan kembali berlari. Serangkai gerakan itu dilakukan terus menerus, bahkan dengan tempo yang semakin cepat, seolah menggambarkan suatu usaha yang dilakukan terus-menerus dengan penuh kesungguhan. Di baris kedua dari batas “panggung” yang ditetapkan penyelenggara, tercium bau rumput dan tanah basah sehabis hujan yang menguar dari persinggungan antara para penari dengan sebidang tanah di taman itu.

Hujan memang belum lama berhenti ketika pertunjukan dimulai. Dan hujan menjadi faktor yang menguntungkan untuk memperkuat suasana dalam tari kontemporer berjudul Rotasi karya I Made Tegeh Okta Maheri dari Bali–meski mungkin tidak masuk dalam perencanaan. Tanpa hujan pun, deretan pohon, gelap malam, dan udara dingin Bandung sudah membangun suasana mistis dalam karya pembuka pada pementasan tari bertajuk Dance City, Density!, yang diselenggarakan pada Selasa malam, 9 Agustus 2016.

Rotasi tidak menjadi satu-satunya karya yang ditampilkan dalam pertunjukan malam itu. Ada lima karya lain yang dipentaskan di titik lokasi yang berbeda-beda dalam wilayah NuArt Sculture Park (NSP). Keenam karya tersebut merupakan presentasi hasil lokakarya tari kontemporer berbasis tradisi yang diselenggarakan oleh Sasikirana dan NuArt.

Merespons Arsitektur Dengan Tari

Dance City, Density! menggunakan format site-specific performance. Artinya, pertunjukan diciptakan sebagai respons atas lokasi di mana ia dilangsungkan. Dan NSP, yang dipilih sebagai lokasi pementasan, bukanlah sekadar sebuah galeri seni. Seluruh elemen di dalam wilayahnya–bangunan galeri, lanskap, hingga patung-patung karya seniman Nyoman Nuarta–memang dirancang sebagai karya seni yang berjalinan. Bentuk arsitekturnya yang dinamis menciptakan beragam pengalaman visual bagi dan memicu respons dari pengguna ruangnya.

Seluruh karya yang ditampilkan malam itu memanfaatkan kontur dan arsitektur bangunan sebagai pengganti ketiadaan panggung. Jika Rotasi menggunakan sebuah sudut taman sebagai ruang pementasan, Connect/Disconnect karya Mohammad Asri bin Razali (Singapura) menggunakan selasar di samping kanan bangunan galeri. Tagaliciak dari Siska Aprisia (Padang) dan Wasilah dari Ridwan Aco (Makassar) sama-sama menggunakan amphitheater, namun pada titik yang berbeda. Tagaliciak menggunakan area bangku penonton, sedangkan Wasilah menggunakan area panggung sebagai ruang pementasan.

Instalasi Tali oleh Rubiadhi Roesli. Foto oleh Masrul Arief.

Instalasi Tali oleh Rubiadhi Roesli. Foto oleh Masrul Arief.

Selain bangunan galeri dan lanskap, terdapat juga instalasi tali karya Rubiadhi Roesli yang terdiri dari tujuh bangunan bersiku dan terbuat dari tambang putih. Instalasi tersebut direspons oleh Ruki Daryudi (Tanjung Pinang) sebagai layar perahu dalam karya berjudul Gelombang, menampilkan kehidupan para pelaut yang erat dengan gelombang.

Penciptaan respons terhadap arsitektur sebuah lokasi tidak cukup dilakukan dengan menjadikannya latar dan properti, tetapi juga menciptakan gerak dan gagasan yang terbangun karenanya. Sehingga, pemaknaan sebuah site-specific performance sebagai karya seni tidak terbatas pada obyek fisik yang menjadi stimulusnya. Sebuah karya, terutama tari kontemporer, dapat menjangkau makna yang jauh lebih luas dan mengandung gagasan serta kritik terhadap berbagai fenomena sosial.

Dalam Connect/Disconnect, lima orang penari melakukan gerakan berjalan lalu lalang dalam sebuah selasar yang sempit. Karya ini dengan baik merepresentasikan fungsi selasar sebagai ruang perpindahan antara satu ruang dengan yang lainnya. Seiring berjalannya waktu, ritme gerak para penari semakin cepat. Gerakan pun berubah dari berjalan menjadi berlari hingga meloncat, menjadi cerminan gerakan manusia urban yang serba terburu-buru. Meski berlari dengan cepat pada selasar sempit yang berundak-undak, mereka tak pernah terjatuh maupun bertubrukan satu sama lain. Seakan menampilkan manusia-manusia yang menghidupi sebuah ruang namun tak terkoneksi dengannya, maupun dengan penghuni lain di dalamnya.

Connect/Disconnect. Foto oleh Kadhan Ruskanda.

Connect/Disconnect. Foto oleh Kadhan Ruskanda.

Hingga pada suatu titik, koneksi visual mereka dengan ruangnya terputus–ditandai dengan selembar kain putih yang menutupi mata para penari. Dengan mata tertutup, gerakan mereka menjadi lebih hati-hati, tak lagi tergesa-gesa. Manusia-manusia urban yang awalnya bergerak cepat dalam ritme konstan, akhirnya bergerak perlahan dalam keterbatasan. Meraba-raba untuk mengenali batas-batas ruangnya dan membangun kembali koneksi dengan dunia yang dihidupinya.

Ruang Bersama Penampil dan Penonton

Ciri lain sebuah site-specific performance adalah leburnya batas antara penampil dan penonton. Dengan ketiadaan panggung, penampil berbagi ruang yang sama dengan penonton sehingga dapat membuka kesempatan akan adanya interaksi antara penonton dengan penampil dan karyanya.

Salah satu penciptaan ruang bersama antara penampil dan penonton bisa dirasakan saat menyaksikan Teror karya Tyoba Armey (Bandung). Pada sebuah bidang tanah berumput, dilatarbelakangi pepohonan dan diiringi suara gergaji mesin, Teror melambangkan kekacauan yang ditimbulkan oleh penebangan liar dan kebakaran hutan. Sebidang tanah ini terletak lebih tinggi namun memiliki persamaan dengan area penonton, yaitu pepohonan menjadi latar belakang, namun tidak mengisi ruang sehingga penonton berada di suasana gersang yang sama dengan yang disimbolkan oleh penampil.

Keterlibatan penonton secara aktif dapat dirasakan ketika berpindah tempat untuk menyaksikan keseluruhan enam karya dalam Dance City, Density! yang dipentaskan di titik-titik lokasi berbeda. Karena adanya pergerakan itu, penonton memiliki kebebasan untuk memilih sudut maupun jarak pandang sendiri,  bahkan bergerak mengubahnya di tengah menonton pementasan, sehingga dapat menciptakan pengalaman berbeda.

Gelombang. Foto oleh Kadhan Ruskandar.

Gelombang. Foto oleh Kadhan Ruskanda.

Saat menyaksikan Gelombang, misalnya, penonton dalam jarak dekat mungkin dapat mengalami gerak dan suara penari dengan lebih baik. Namun, karena ruang pementasan yang berbentuk memanjang, penglihatan periferal penonton akan terbatas. Keterbatasan ini menciptakan hal-hal yang tidak terdengar atau terlihat, sehingga membentuk beragam pembacaan dan apresiasi, yang pada akhirnya memberi kendali lebih kepada penonton untuk lebih aktif mengalami dan memahami sebuah karya. Sayangnya, selain dalam bentuk itu, tidak ada lagi ruang bagi penonton untuk terlibat lebih jauh ke dalam karya-karya.

Tahun lalu, Sasikirana dan NuArt telah menyelenggarakan rangkaian kegiatan serupa bernama Sasikirana Dance Camp. Namun, berbeda dengan tahun sebelumnya, terdapat materi khusus yang berfokus pada penciptaan tari kontemporer di lokakarya tahun ini sehingga nama kegiatan ini menjadi Sasikirana KoreoLAB & Dance Camp (SKDC). Telah terpilih enam penata tari dan 25 penari dari lima negara yang menjadi bagian dalam kegiatan ini. Selama sembilan hari mereka mendapat bimbingan dari mentor Arco Renz (Belgia), Faturrahman bin Said (Singapura), Hartati dan Eko Supriyanto (Indonesia).

Sesaat sebelum acara dimulai, Keni Soeriaatmadja, pemimpin produksi SKDC, menyampaikan dalam kata sambutannya bahwa pementasan malam itu merupakan sebuah embrio, ketimbang sebuah karya akhir. Enam karya yang tampil diharapkan masih bisa berkembang di waktu yang akan datang.

Tentu, akan sangat menarik jika karya-karya itu bisa dikembangkan dengan mempertahankan format site-specific performance sehingga membuka ruang yang lebih besar bagi penonton untuk berinteraksi dengan penampil dalam sebuah ruang bersama. Dan tentu, akan sangat membahagiakan jika bisa dipertunjukkan kembali di kota ini. Sudah waktunya Bandung memiliki lebih banyak alternatif pertunjukan seni.

Santap Malam Berteman Sejarah dan Kenangan

Hujan deras dan jalanan macet yang mendera Bandung sejak sore tak menyurutkan semangat saya dan Tita untuk datang ke The Goodlife, sebuah kedai mungil berbasis komunitas di Bandung. Saat tiba di lokasi, papan tulis hitam yang biasa bertuliskan daftar menu telah berganti tulisan menjadi “TUTUP”, namun beberapa tamu terlihat telah mengisi tiga dari empat meja yang ada di sana.

Ada yang berbeda dengan The Goodlife pada Jumat malam, 19 Agustus 2016 itu. Bukan hanya menunya, bukan hanya suasananya, tetapi juga pemasaknya. The Goodlife menjadi tuan rumah untuk perhelatan History & Memory–santap malam dan diskusi bersama dua orang pemasak tamu. Perhelatan ini bersifat tertutup, hanya bisa diikuti oleh 16 orang yang sudah melakukan pemesanan terlebih dahulu. Uniknya, dua orang pemasak yang ditanggap bukanlah pemasak profesional.

HM4

Yang pertama adalah Prilla Tania, seorang seniman visual yang banyak mengolah tema pangan dan konsumsi dalam karya-karyanya. Prilla tengah mengadakan riset atas adaptasi kuliner Indonesia dalam kuliner Belanda. Sedangkan yang kedua adalah Willi, seorang programmer buta warna yang menyamar jadi tukang foto–begitu bunyi profil dalam akun Instagram-nya. Willi, yang memiliki darah Minang, sedang menggali kembali catatan lama milik neneknya, yang berisi hidangan-hidangan yang turun-temurun disajikan di keluarganya. Meski tak memiliki latar belakang kuliner secara akademis maupun profesional, keduanya adalah orang-orang yang berhasrat terhadap makanan dan kaitannya dengan hidup.

Seperti judul perhelatan ini, Prilla akan memasak sebuah resep bersejarah. Resep itu diambil dari buku Oost-Indisch Kookboek, sebuah buku resep kuno terbitan tahun 1870, yang sedang ditelitinya. Sedangkan Willi, akan memasak hidangan yang ia warisi dari sang ibu dan merekam kenangan akan keluarganya. Selagi para pemasak beraksi, para tamu dipersilakan berdiskusi mengenai makanan bersama mereka.

 

Membentuk Rupa dan Rasa

Prilla mendapat giliran memasak pertama meskipun hidangan yang dibuatnya adalah puding untuk hidangan penutup. Ini karena puding arrowroot yang akan dihidangkan memerlukan proses pendinginan di lemari es terlebih dahulu. Ya, arrowroot atau ararut atau umbi garut, salah satu jenis umbi-umbian yang kini jarang digunakan. Ararut akan dibuat puding bersama telur, susu, dan vanili, lalu disajikan bersama saus dari bayam merah dan lemon.

HM1

Selama memasak, Prilla menuturkan perjalanannya menerjemahkan sebuah resep kuno hingga menjadi hidangan yang akan ia sajikan. Sebagai manusia modern yang terbiasa dengan panduan visual, tentu sulit mengikuti panduan buku resep kuno yang hanya berbasis teks. Tak ada takaran yang akurat dan petunjuk yang benar-benar pasti mengenai rupa maupun rasa akhir yang seharusnya dihasilkan dari proses pemasakan. Hidangan yang nantinya akan disajikan Prilla merupakan hasil interpretasinya terhadap resep yang ia pelajari.

Ketiadaan petunjuk pasti mengenai hasil akhir sebuah resep menjadikannya menarik karena memberi kendali bagi pemasak untuk menyesuaikan sebuah hidangan dengan cita rasa pribadinya. Pembentukan rupa dan rasa bisa dikreasikan sebebas mungkin, sepanjang mempertahankan bahan-bahan utama. Ini yang mungkin menyebabkan sebuah hidangan yang telah diwariskan turun-temurun, dapat memiliki nama yang sama dengan bumbu, rupa, bahkan rasa yang berbeda satu dengan lainnya.

Di masa lalu, umbi garut sendiri sebenarnya merupakan umbi yang lazim ditemui di Pulau Jawa. Umbi ini biasanya dibuat tepung, untuk digunakan sebagai pengental bubur dan sebagai bahan untuk membuat permen coklat. Sekarang ini kita dapat menemukannya dalam bentuk tepung organik, namun  dengan harga yang cukup tinggi dan agak langka. Sementara itu, bayam merah yang kita kenal sekarang lebih banyak dimanfaatkan sebagai makanan utama, bukan makanan manis penutup.

Di tengah proses pemasakan puding ararut, Teh Asih, sang pemilik kedai, mengedarkan keranjang kecil berisi hidangan pembuka yang unik. Dua kerupuk aci dengan segenggam nasi putih hangat berlumur kecap di atasnya. Menurut Teh Asih, hidangan pembuka ini terinspirasi oleh masa kecilnya. Jika sedang tak selera makan, ia hanya mau makan nasi putih hangat dengan kerupuk dan kecap. Nah, hidangan pembuka ini adalah versi yang lebih modern. Teh Asih menambahkan acar bunga kecombrang, daun jeruk purut, dan taburan daun bawang kucai pada nasi kecap sehingga memberinya rasa asam yang segar dan aroma yang kuat. Menemani memori masa kecil itu, kami juga menemukan sekeranjang kecil kudapan jaman dulu di setiap meja. Dari cokelat cap Ayam Jago, permen asam haw flakes, nougat kacang Suzanna, balon tiup, sampai asam keranji.

Sambil menunggu matang saus bayam merah untuk puding, Willi mulai memasak hidangan utama, yaitu ikan asam padeh (masam padiah). Menurut Willi, ikan asam padeh merupakan menu rumahan yang tak lazim ditemui di rumah makan khas Minang. Menurut Tita, mungkin hidangan ini kurang populer karena terlalu sederhana jika dibandingkan dengan hidangan Minang lain yang kuahnya pekat dengan santan dan berbagai bumbu yang dihaluskan. Asam padeh sendiri hanya menggunakan cabai giling, asam kandis, belimbing, ditambah jahe, lengkuas, dan sereh tanpa dihaluskan.

Willi juga menyampaikan bahwa bahan dasar asam padeh dapat bervariasi antara satu daerah dengan yang lain. Keluarga Willi yang berasal dari daerah pesisir lebih sering menggunakan bahan laut seperti ikan dan udang. Sementara di Bukittinggi, misalnya, karena berjauhan dengan laut, biasanya menggunakan daging sapi atau ayam. Untuk hidangan kali ini, Willi menggunakan ikan kakap merah. Pelengkap aroma yang tidak boleh terlewatkan saat menyajikan hidangan ini adalah daun ruku-ruku (kemangi).

Berdasarkan pengalaman Tita, seluruh hidangan asam padeh yang pernah dicicipinya memiliki cita rasa yang berbeda-beda. Ia juga pernah menemukan hidangan asam padeh yang menggunakan asam sunti, yang lebih segar rasa asamnya daripada asam kandis. Saya sendiri sepertinya pernah mencicipi, namun lupa rasanya. Sekali lagi, sebagai masakan rumah yang resepnya diturunkan secara lisan, cita rasa pribadi ikut bermain dalam hidangan ini.

 

Hasil Akhir

Ikan asam padeh yang dimasak Willi disajikan bersama urap. Ketika kami bertanya tentang hal ini, Teh Asih menjelaskan bahwa urap dipilih secara naluriah saja sebagai variasi. Di keluarga Willi, sayur pendamping hidangan ini biasanya adalah cah kangkung. Namun, menurut Teh Asih, cah kangkung terasa kurang spesial untuk acara ini. Sementara itu, sayur daun pepaya pun terlalu mudah ditebak, sehingga mereka putuskan bahwa uraplah yang akan menemani hidangan utama.

Cita rasa dasar asam padeh adalah kecut, asin, dan pedas. Lebih ringan dibandingkan cita rasa hidangan Minang lainnya. Menurut kami, rasa kecut dari hidangan ini kurang dominan ketika disandingkan dengan nasi. Menyantap belimbing sayur di dalamnya bisa sedikit menolong hal ini. Asinnya pun belum bisa mengalahkan rasa nasi, namun tertolong oleh asin dari urap. Cukup mengejutkan bahwa urap yang berasal dari tanah Jawa ternyata klop mendampingi cita rasa Sumatera.

Tiba saatnya mencicipi puding ararut buatan Prilla. Pudingnya tidak terlalu kental dan rasanya sederhana untuk ukuran lidah masa kini. Rasa telur dan susu mendominasi dengan rasa kesat di yang tertinggal di langit-langit mulut. Sausnya yang berwarna magenta menyala terbuat dari bayam merah dan jeruk nipis. Saus ini memiliki rasa asam yang cukup dominan, berasal dari jeruk nipis, dengan sedikit jejak aroma kayu manis, yang kemungkinan digunakan sebagai penghilang aroma bayam.

Kami memiliki pendapat yang berbeda mengenai hidangan ini. Bagi saya hidangan ini benar-benar mencuci mulut karena menetralkan lidah dari rasa yang muncul dari hidangan-hidangan sebelumnya–dengan catatan, rasio konsumsi antara puding dan sausnya setara. Rasa asam dari puding dapat  menetralkan rasa susu dan telur yang terasa dominan. Namun, Tita merasa bahwa kesat-manis dari puding dan asam dari sausnya saling menihilkan sehingga tidak menimbulkan kesan yang dominan, malah cenderung hambar.

Secara keseluruhan, malam itu benar-benar berkesan. Dilihat sekilas dari bahan yang digunakan, harga santap malam kali itu terkesan cukup mahal. Namun, sebanding dengan pengalaman yang kami dapatkan. Tamu yang terbatas dan area dapur yang terbuka memungkinkan terjadinya diskusi dan interaksi dengan pemasak. Kami bisa melihat hampir seluruh proses pemasakan dengan jelas. Diskusi pun berjalan dengan menyenangkan, semua memiliki kesempatan yang sama untuk bertukar pendapat. Sebelum pulang, kami juga sempat berdiskusi dengan Teh Asih dan Prilla mengenai budaya kuliner yang terjadi saat ini. Bagaimana aktivitas masak dan makan ternyata sangat lekat dengan perkembangan peradaban dan banyak sekali jejak-jejaknya yang kini hampir punah.

Pembahasan tentang kuliner memang tidak seharusnya hanya berakhir di acara masak bersama celebrity chef atau ulasan mengenai tempat makan yang menjadi tren terbaru. Membuka pintu bagi orang-orang awam yang berhasrat tentang kuliner seperti Prilla dan Willi menjadi pilihan yang berani sekaligus sangat menarik. Toh, makan dan masak adalah pengalaman milik semua manusia di muka bumi ini sehingga pembahasan tentangnya adalah milik semua kalangan.

Logo teks (Custom)