Bermain Warna dengan The Urban Outliners

Saat itu awal tahun 2015 dan saya masih bekerja sebagai strategic planner di sebuah jaringan toko buku dan penerbit. Pada rapat business review rutin, salah satu asisten manager unit bisnis penerbitan mempresentasikan rencana produknya yang akan rilis tahun itu. “Kami akan mengeluarkan seri buku mewarnai untuk dewasa yang saat ini sedang tren di luar negeri,” ujarnya.

Saya tertegun mendengar kata-kata “buku mewarnai untuk dewasa”. Saat masih kecil pun saya tak merasa bahwa mewarnai adalah kegiatan yang menyenangkan. Terlalu banyak garis yang tak boleh dilanggar. Kreativitas yang hanya bisa disalurkan lewat pemilihan warna pun kadang masih harus mengikuti aturan. Ibu saya sering menegur kalau saya mewarnai kulit manusia dengan warna cokelat atau hitam. “Kok, warnanya gelap? Harusnya pakai warna krem,” ujarnya seakan-akan di dunia ini hanya ada manusia berkulit terang.

Selang beberapa minggu, teman saya bercerita bahwa dia baru saja mengunduh aplikasi baru yang bernama Colorfy di ponselnya. Aplikasi mewarnai untuk dewasa. “It’s so relaxing!” katanya. Rupanya, mewarnai memang sedang tren dan katanya bermanfaat untuk melepas stres. Ternyata jadi orang dewasa begitu memusingkan sampai mewarnai saja bisa jadi hiburan. Karena penasaran, saya sempat mencoba Colorfy. Hati malah tambah tak tenang karena ilustrasi dan warna-warna yang saya inginkan tidak tersedia untuk pengguna gratis.

Satu tahun telah lewat, buku-buku mewarnai untuk dewasa semakin bertumpuk di toko-toko buku, tapi tidak ada satu pun yang menarik. Sampai akhir Agustus yang lalu, terbit enam judul buku mewarnai yang akhirnya menarik perhatian saya.

Tergabung dalam seri The Urban Outliners, ada enam seniman visual yang masing-masing menerbitkan satu buku berisi ilustrasi-ilustrasi karyanya dalam format outline yang bisa diwarnai. Seniman-seniman itu adalah Lala Bohang, Mayumi Haryoto, Muhammad Taufiq (emte), Reza Mustar (Azer), Sanchia Hamidjaja, dan Yudha Sandy. Sebagian komik dan ilustrasi Azer bisa diikuti lewat akun Instagram @komikazer. Saya juga mengikuti ilustrasi Lala Bohang dan Sanchia Hamidjadja lewat akun Instagram mereka. Enam seniman visual itu mengangkat fokus yang berbeda, namun memiliki tema yang sama, yaitu kehidupan urban.

Sanchia Hamidjaja adalah nama pertama yang membuat saya menyerah, lalu menyingkirkan gengsi untuk membeli buku mewarnai untuk dewasa. Namun, sebuah video singkat di akun Instagram salah satu seniman visual itu, yang memperlihatkan cuplikan dari keenam buku The Urban Outliners, membuat saya bimbang. Enam-enamnya menampilkan ilustrasi khas masing-masing yang menyenangkan untuk dinikmati dan menantang untuk diwarnai.

Maka, pergilah saya ke toko buku terdekat dari rumah–sayangnya bukan bagian dari jaringan toko buku di mana saya bekerja dulu. Setelah menimbang-nimbang hingga masak, dengan berat hati saya pulang membawa dua buku saja, Stack City karya Sanchia Hamidjaja dan Lula Lyfe karya Lala Bohang.

Ilustrasi dalam Lula Lyfe bercerita tentang kehidupan sehari-hari seorang gadis remaja yang beranjak dewasa. Obyek gambarnya cewek banget. Dari junk food, kosmetik, barang-barang fesyen, bermacam-macam bentuk kue, hingga tumpukan baju dan piring yang belum dicuci. Ada Lula yang sedang bermain gawai di kamar mandi, berjuang mengecilkan perut agar bisa memakai crop top, dan mengacak-acak kulkas dalam balutan daster.

Karena hampir semua ilustrasinya berbentuk adegan dan obyek-obyek dalam hidup Lula, bidang pewarnaannya cukup luas. Saya mencoba mewarnai ilustrasi pertama dalam buku ini dengan pensil warna kecil dan hasilnya cukup bikin pegal. Mungkin krayon bisa jadi pilihan yang lebih baik karena sapuannya lebih luas dan bisa menampilkan sisi playful dari ilustrasi-ilustrasi Lala. Obyek yang paling saya sukai dari Lula adalah rambutnya yang pendek bergelombang–mudah untuk diwarnai dalam berbagai warna dengan gaya highlight atau ombre.

Berbeda dengan Lula Lyfe, Stack City mengangkat tema urban yang lebih luas. Sanchia mengambil obyek-obyek yang ditemui dalam keseharian hidup di kota kemudian menggambarnya berulang-ulang sehingga membentuk “tumpukan”. Ada toples-toples berisi jajanan yang biasa kita temui di warung, rumah-rumah warga yang berjejalan, kolam renang berisi anak-anak, gedung-gedung tinggi Jakarta diselingi asap polusi, ikan dalam plastik berisi air, dan tanaman dalam pot. Semua mengingatkan akan kepadatan dan keterbatasan ruang gerak yang dialami masyarakat kota.

Keterbatasan ruang gerak ini juga terasa saat mencoba mewarnainya. Bidang pewarnaan dalam Stack City sangat sempit dan penuh dengan detail. Saya memutuskan untuk menggunakan spidol yang ujungnya tipis agar bisa menjangkau detail-detail dalam Stack City. Hanya saja, ketika menjumpai obyek dengan bidang yang luas, agak sulit mengendalikan sapuan spidol sehingga di beberapa bagian bisa terdapat lebih dari satu pulasan dan warna jadi kurang merata.

Dua buku mewarnai ini memiliki tingkat kesulitan dan daya tarik yang berbeda. Ilustrasi Lala cenderung lebih mudah dan menyenangkan untuk diwarnai karena bisa bereksperimen dengan warna-warna pastel maupun neon. Sedangkan ilustrasi Sanchia, meski membutuhkan lebih banyak kesabaran untuk mewarnainya, memiliki dimensi ruang yang memikat bagi saya. Baik Stack City maupun Lula Lyfe juga menyediakan bidang polos–disengaja atau pun tidak–yang bisa digunakan untuk doodling.

Keenam buku The Urban Outliners ini layak untuk dikoleksi–kalau anggaran mencukupi. Untuk saya sih, sementara ini cukup dua dulu. Dua buku ini saja mungkin butuh waktu seumur hidup untuk diwarnai hingga selesai. Bukan karena sulit, tapi lebih karena saya ini cepat bosan. Bermain-main dengan buku-buku ini terasa seperti berkolaborasi dengan seniman-seniman penciptanya. Jika pun tak sempat diwarnai, seluruh ilustrasi The Urban Outliners tetap asyik dinikmati dalam bentuk outline hitam putih.

Dalam Perburuan Seri Sekolah Kehidupan

Buku How To Be Alone karya Sara Maitland menghampiri saya pada suatu siang yang hujan rintik-rintik di Aksara Citos, dua tahun sekian bulan yang lalu. Sayang, perjumpaan kami yang singkat itu tidak diakhiri dengan pulang bersama.

Tak ingat jelas kenapa saya memutuskan untuk tidak membawanya pulang. Kemungkinan besar karena sedang berhemat. Atau mungkin alasan lain. Entahlah. Padahal, kala itu, saya sedang butuh-butuhnya panduan untuk hidup sendiri pasca perceraian.

Keputusan tak membawanya pulang kemudian jadi penyesalan yang membayangi saya karena setelah perjumpaan tadi, sulit sekali menemukannya di toko buku. Maka, dimulailah perburuan buku bersampul oranye itu. Selama dua tahun terakhir, setiap mengunjungi toko buku Kinokuniya atau Aksara, saya selalu menyempatkan diri mencarinya. Terutama jika ada obral buku yang diadakan toko buku Periplus, dengan semangat membara saya membongkar tumpukan buku-buku obral dengan harapan bisa menemukannya (dan tentu, membelinya dengan harga yang lebih murah).

Pencarian selama dua tahun itu bukan tanpa hasil. Meski belum bertemu dengan si oranye, saya malah berkenalan dengan judul-judul lain dalam seri The School of Life yang menaunginya. Seri yang digagas Alain de Botton ini menyatakan dirinya sebagai buku self-help (swabantu). Itulah mengapa semua judul bukunya diawali frase ‘How To’.

Yap, self-help. Atau self-improvement. Atau segala narasi berbunga-bunga yang seakan menganggap semua masalah pembacanya berawal dari kemalasan semata sehingga si pembaca tak layak berkeluh kesah karena toh, masalah yang dialaminya akan hilang tak berbekas jika mengikuti arahan yang dibuat si penulis.

Hmm, agaknya yang terakhir ini hanya prasangka saya saja karena ternyata, bacaan self-help tidak perlu terkesan menyepelekan atau menggurui. Atau seperti yang disebutkan di sampul belakang tiap buku dalam seri The School Of Life, tidak perlu menjadi dangkal dan naif.

Seperti layaknya bacaan self-help, seri ini tetap berperan sebagai panduan
menghadapi permasalahan hidup di dunia modern. Hanya, narasinya tidak disajikan dalam bentuk tips atau langkah-langkah praktis, melainkan kajian yang merefleksikan hakikat dan membuka sudut pandang pembaca atas topik-topik yang diangkatnya.

Masing-masing judul, yang ditulis oleh berbagai penulis dari berbagai latar belakang keahlian, memiliki nada dan gaya bertutur yang berbeda. How To Think More About Sex (ditulis oleh penulis dan ahli filsafat Alain de Botton) mengeksplorasi sudut pandang manusia tentang seks dan kasih sayang menggunakan referensi filsafat dan literatur. Lain halnya dengan How To Develop Emotional Health (ditulis oleh psikolog Oliver James) yang membahas tentang hakikat kesehatan emosional berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan penulisnya.

Lima belas judul yang sudah terbit menyuguhkan berbagai topik dari mulai kerisauan tentang uang hingga bagaimana bertahan hidup di kota besar. Kekhasan penulisan dan topik-topiknya yang tanpa basa-basi menyentuh kerisauan manusia modern menjadikan seri ini bacaan yang asyik dan layak dikoleksi.

Collage 2016-05-27 15_58_49-1

Dalam dua tahun, sudah lima judul yang berhasil saya kumpulkan: How To Age, How To Connect With Nature, How To Think More About Sex, How To Deal With Adversity dan How To Develop Emotional Health. Lima judul yang sudah duduk manis di rak buku saya itu tentu kurang lengkap tanpa judul yang mengawali perkenalan saya dengan seri sekolah kehidupan ini: How To Be Alone.

Setelah kelima judul itu, saya meneruskan pencarian si oranye itu di berbagai toko buku di Jakarta–bahkan di acara Big Bad Wolf Books Jakarta bulan lalu–namun ia belum juga menampakkan diri. Sampai akhirnya saat makan siang di Setiabudi Supermarket Bandung akhir pekan lalu, tanpa sengaja saya menemukannya. Terselip di antara buku-buku novel obral di toko buku Periplus.

Perburuan buku tentang bagaimana menikmati kesendirian yang berawal saat saya memulai hidup sendiri di Jakarta malah berakhir di Bandung saat saya sudah tak lagi sendiri. Sebenarnya ini bisa saja jadi sebuah akhir cerita yang manis, tapi setelah dua tahun terlewati, perburuan ini tidak lagi menyangkut satu judul buku saja. Masih ada sembilan judul buku lagi yang belum ditemukan.

Perburuan masih jauh dari selesai. Ini baru benar-benar dimulai.