Maria Mampir ke Bandung

“Nggak papa, hujan itu kan berkah,” ujar Feby Indirani dengan santai, menanggapi keluhan saya akan hujan badai yang tiba-tiba mengguyur Bandung kala itu. Dua kali Bukan Perawan Maria mampir ke kota ini, dua-duanya diiringi oleh hujan.

Bandung tak jauh berbeda dengan Jakarta. Kala dilanda hujan yang agak besar, jalan-jalan tergenang air sehingga macet pun muncul di mana-mana. Saya yang sejak kecil tinggal di kota ini sudah cukup hafal tabiat barudak Bandung. Kalau hujan, mereka jadi malas keluar rumah dan penginnya cuma makan mi instan pakai cengek di rumah. Yah… tabiat saya juga begitu, sih.

Kendati begitu, mungkin Feby benar kalau hujan membawa berkah. Kedua acara kecil Bukan Perawan Maria dan Relaksasi Beragama di Bandung itu tetap hidup. Justru karena hujan yang melatari di luar, bincang santai penuh humor tentang keberagaman jadi terasa begitu hangat di hati.

Maria dan Performans Barudak Bandung

Di kali pertamanya, Maria menyambangi Bandung sebagai bagian dari program Maca. Maca adalah inisiatif apresiasi sastra yang digelar rutin oleh teman-teman Toco Buruan.co. Hari Sabtu itu, 24 Maret 2018, kami berkumpul di 372 Kopi Dago Pakar.

Selain bincang santai yang menjadi jantung acaranya, seniman-seniman muda Bandung juga ikut memeriahkan acara. Sebelum memasuki ruangan di mana acara dilangsungkan, pengunjung disambut oleh serangkaian foto karya Musa bin Hamdani, merespons cerita-cerita di dalam Maria.

Kemudian tiga perempuan muda membuka acara. Dua di antaranya berhijab dan sedang mematut diri di depan kamera dan laptop. Satu orang yang tidak berhijab berkata ke arah kamera yang menyorotnya, “Halo guys, kali ini kita akan melakukan tutorial bersama Fitri Hijabi Store.” Dia adalah A.Y. Sekar F., atau lebih akrab dipanggil Sekar.

Tutorial daring ini ternyata sebuah performans. Fitri Hijabi Store pun bukan sembarang toko hijab daring. Ini adalah sebuah proyek seni hasil residensi Sekar di Omni Space. Motif-motif hijab yang dijualnya tidak biasa. Ada yang berhiaskan daun-daun ganja berwarna hijau. Ada juga yang menampilkan gambar perempuan-perempuan bertudung dari beberapa lukisan klasik, tapi wajahnya diganti dengan wajah-wajah ikon hijabers Indonesia.

Wajah hijaber yang sering muncul di motif hijab buatan Sekar adalah Laudya Cynthia Bella. Alasannya? Dia adalah selebritas berhijab yang paling banyak muncul di hasil survei awal Sekar untuk proyek ini.

Setelah performans ini berakhir, Feby mengajukan pertanyaan kepada dua orang teman Sekar yang ikut serta. Sehari-hari keduanya memang berhijab. “Gimana perasaan kalian terhadap hijab-hijab yang dibuat Sekar? Apa kalian benar enggak keberatan terlibat dalam proyek ini?” begitu kira-kira pertanyaan Feby.

Keduanya, meski sadar dengan komentar miring teman-teman mereka terhadap hijab-hijab karya Sekar, sama sekali tak memusingkan hal itu. “Motifnya unik. Aku suka. Lagi pula, bahannya enakeun pas dipakai di kepala,” ujar salah satunya sambil tertawa.

Enakeun itu artinya nyaman. Dan ini Bandung, hijab bisa jadi sekadar fesyen dan hijab bermotif provokatif mungkin bisa jadi tren.

Pada sesi bincang-bincang yang dimoderatori Zulfa Nasrullah, ada dua pembahas yang menemani Feby. Adhimas Prasetyo membahas Maria dari sisi kesastraan, sedangkan Muaz Malik banyak berkelakar tentang perilaku-perilaku manusia yang menuhankan agama.

Disinggung tentang ide di balik terciptanya cerita-cerita di balik Maria, Feby menjawab bahwa semuanya berangkat dari pertanyaan “bagaimana jika”. Bagaimana jika di akhirat muncul pertanyaan dalam Bahasa Sunda? Bagaimana kalau di sana tidak ada bidadari?

Saat tiba malam, acara ditutup dengan satu lagi performans. Kali ini adalah Transient Void dan Rama Putranta membawakan interpretasi mereka terhadap cerpen “Ruang Tunggu” dalam buku Maria. Hasilnya adalah musik derau yang dipadu dengan lengkingan gitar elektronik dan vokal yang merintih, menimbulkan suasana yang mencekam dan penuh keputusasaan.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah suasana yang cukup tegang dari musik yang dibawakan Transient Void dan Rama Putranta, EIR hadir menutup acara. Di tengah lagu-lagu akustik yang dibawakan EIR, Feby berpindah duduk ke sebelah saya. “Duh, kalau dengar lagu-lagu begini, gue jadi ingat masa muda waktu kuliah di Bandung, nih,” celetuknya sambil menyeringai.

Temu Singkat yang Hangat

Lain di Maca, lain pula yang terjadi saat perayaan ulang tahun kedua Nimna Book Cafe, Sabtu, 21 April 2018. Dimiliki oleh dua orang perempuan asal Bandung, Agnes Stephania dan Della Angelina, Nimna memang sengaja menjatuhkan ulang tahunnya di Hari Kartini. Mereka begitu antusias mengundang Feby, sebagai penulis perempuan yang berani mendiskusikan hal-hal yang dianggap tabu, dan berbincang tentang Maria.

Acara terpaksa dimundurkan waktunya selama satu jam. Hujan badai mendera Bandung sore itu dan jalanan macet karena banjir di berbagai titik. Walau dengan kondisi seperti itu, teman-teman Bandung tetap hadir juga di Nimna, sebagian dalam kondisi berbasah-basahan.

Acara ini juga didukung oleh teman-teman dari CS Writers Club Bandung. Saya dan dua orang teman dari CS Writers Club, Ayu Oktariani dan Izhar Isra, mengadakan performans kecil dari cerpen “Pertanyaan Malaikat”. Diiringi narasi oleh Agnes Stephania, kami melakonkan Sasmita, Munkar, dan Nakir yang melangsungkan tanya-jawab tak terduga seperti di dalam cerita.

Seusainya, moderator Abi Ardianda membuka acara bincang-bincang dengan Feby dan Sundea, penulis yang membahas Maria malam itu. Selain tentang Maria, Abi juga banyak bertanya tentang gerakan Relaksasi Beragama kepada Feby. Sundea, atau Dea, sendiri sudah pernah membuat review buku Maria di blog-nya. Satu hal yang digarisbawahi Dea tentang Maria adalah meski bernada kritik, Feby membawakannya tanpa bertindak menghakimi. Cerita-cerita di dalam Maria selalu mengajak pembaca memahami tindakan yang dilakukan tokoh-tokohnya.

Yang menarik dari acara malam itu adalah “curhat-curhat” tentang agama yang disampaikan oleh mereka yang hadir. Feby memang memancing audiens untuk membagikan pengalaman mereka beragama atau tentang agama.

Ada Ayu, yang bercerita tentang bagaimana ia merasa “dipaksa” berhijab sejak kecil dan pertentangan yang dialaminya ketika membuka hijab beberapa tahun lalu. Kemudian, ada juga Caca. Ia mengemukakan pengalaman yang berbanding terbalik. Ia bercerita bagaimana ia dan keluarganya telah mencoba dua kepercayaan berbeda, Islam dan Sirnagalih, namun justru di dalam Islam dan hijab yang ia kenakan sekarang, ia menemukan kedamaian.

This slideshow requires JavaScript.

Menutup kedua cerita itu, Feby menyampaikan bahwa ruang-ruang seperti itulah yang ingin diciptakannya dari gerakan Relaksasi Beragama. Sebuah ruang diskusi yang hangat dan terbuka, di mana berbagai orang dengan berbagai kepercayaan–meski saling bertolak belakang–dapat duduk bersebelahan dan berkomunikasi. Tanpa saling menghakimi, tanpa saling merasa benar.

Meski pembacaan cerita “Perempuan yang Kehilangan Wajahnya” oleh Feby dibatalkan karena malam telah larut, acara ditutup dengan senyum puas baik oleh pengisi acara maupun mereka yang hadir menyaksikan. “Gue senang deh, kalau ada yang mau berbagi cerita seperti tadi,” ujar Feby berseri-seri setelah acara berakhir.

Pertemuan singkat namun berisi seperti malam itu seharusnya lebih banyak diadakan.  Setidaknya lebih banyak daripada pertengkaran di dunia maya yang riuh namun tanpa makna. Siapa tahu, dunia ini jadi lebih banyak dipenuhi cinta, bukannya benci. Dan kita bisa merangkul kemungkinan bahwa bisa jadi kita bukanlah pihak yang paling benar.

 


Di Bandung, buku Bukan Perawan Maria bisa didapat di:

  • Kineruku, Jl. Hegarmanah no. 52.
  • Toco, 372 Kopi Dago Pakar, Jl. Dago Pojok no. 23, atau lewat akun Instagram @toco.buruan.co.
  • Nimna Book Cafe, Grha Satria, Jl. Sukahaji no. 126.
  • Kelindan Buku, Coop Space Unpar, Jl. Menjangan, atau di lapak Lawang Buku.
Advertisements

Males Baca Buku #1: Secangkir Kopi dan Sepotong Donat

Setelah iseng-iseng membacakan potongan cerita pendek Ted Chiang pekan lalu lewat Instagram Story, saya pikir kenapa tidak membacakan sebuah cerita lengkap saja sekalian? Hitung-hitung berbagi bacaaan-bacaan menarik dan jadi hiburan juga buat saya.

Video di bawah ini hasil coba-coba saya membacakan sebuah cerita pendek karya Umar Kayam dari kumpulan cerita Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Sebenarnya, video hanya diisi dengan rekaman buku yang saya baca. Kalau dipikir-pikir, mungkin dalam format MP3 atau audio dengan grafis statis juga cukup, ya. Lebih sederhana, bisa didengarkan di perjalanan, dan tak memakan konsumsi data yang besar.

Masih banyak salah-salah sebut juga di sana-sini. Susah ya, ternyata, melakukan pembacaan dramatis tanpa latihan.

Daripada banyak mikir, akhirnya saya unggah dulu. Di pembacaan selanjutnya, saya coba perbaiki ini-itu dan mungkin juga, mencoba bentuk yang berbeda.

The God of Small Things: Hal-Hal Kecil yang Menghantui

Gentle half-moons have gathered under their eyes and they are as old as Ammu was when she died. Thirty-one.

Not old.

Not young.

But a viable die-able age.

Mungkin bukan kebetulan kalau saya baru membaca The God of Small Things karya Arundhati Roy di usia ke-31. Tidak tua. Tidak muda. Tapi usia yang layak, bisa mati.

Tiga puluh satu adalah usia dua tokoh sentral dalam buku ini ketika cerita dituturkan, sepasang saudara kembar dari dua telur yang berbeda, Rahel dan Estha. Tiga puluh satu juga usia ketika Ammu, ibu mereka meregang nyawa seorang diri di sebuah kamar penginapan yang kotor, hanya ditemani ributnya suara mesin kipas angin.

The God of Small Things bergerak maju-mundur dalam kontinum waktu, merekam tak hanya kisah hidup Rahel dan Estha, tapi juga riwayat keluarga besar mereka di sebuah kota kecil bernama Aymanam, negara bagian Kerala, selatan India. (Roy memilih menuliskan Aymanam sebagai “Ayemenem”.) Akan tetapi, penuturan waktu yang maju-mundur itu selalu berjangkar pada dua momen: menjelang Natal tahun 1969, ketika sebuah kejadian memisahkan sepasang kembar itu dan mengubah hidup mereka selamanya, dan 23 tahun kemudian ketika mereka bertemu kembali saat berusia 31 tahun.

Sebagai keturunan pemuka agama Kristen Ortodoks Siria, keluarga Ipe telah menikmati tahun-tahun gemilang sebagai keluarga terkemuka di Ayemenem. Kaum Kristen Siria menempati kelas sosial yang tinggi di negara bagian Kerala karena dipercaya sebagai keturunan kasta Brahmana yang ditahbiskan menjadi Kristiani langsung oleh Rasul Thomas. Pernikahan dengan kaum Hindu–seperti yang dilakukan Ammu dengan ayah Rahel dan Estha–bukanlah hal yang terhormat. Maka, ketika Ammu membawa Rahel dan Estha pergi meninggalkan ayah mereka, yang pemabuk dan kasar, dan kembali ke rumah Ayemenem, keluarganya tidak menyambut baik. Yang paling menolak kehadiran mereka adalah Baby Kochamma, bibi Ammu, adik perempuan ayahnya.

Tahun saat Ammu, Rahel, dan Estha kembali ke rumah Ayemenem adalah 1969. Pappachi, ayah Ammu sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya, meninggalkan Mammachi, istrinya yang setengah buta akibat terus menerus ia kasari. Salah satu hal yang membuat Pappachi seolah begitu membenci istrinya adalah bisnis acar dan selai yang didirikan Mammachi. Bisnis itu menjadi sumber pendapatan utama keluarga Ipe setelah Pappachi pensiun dari posisinya sebagai ahli entomologi untuk pemerintah India.

Chacko, kakak laki-laki Ammu, seorang penerima beasiswa Rhodes yang berpendidikan di Oxford, juga telah kembali ke Ayemenem dalam keadaan tanpa pekerjaan dan bercerai dari istrinya, Margaret. Akan tetapi, sebagai anak laki-laki dalam keluarga Kristen di Kerala, Chacko memiliki hak penuh sebagai pewaris harta keluarganya. Sepulang dari Inggris, Chacko segera dipercaya Mammachi untuk menjalankan bisnis acar dan selainya. Di sisi lain, Ammu, sebagai anak perempuan, dianggap tidak memiliki hak apa pun atas harta peninggalan orang tua mereka. Roy menggambarkan dengan lugas diskriminasi ini:

Though Ammu did as much work in the factory as Chacko, whenever he was dealing with food inspectors or sanitary engineers, he always referred to it as my factory, my pineapples, my pickles. Legally this was the case, because Ammu, as a daughter, had no claim to the property.

Chacko told Rahel and Estha that Ammu had no Locusts Stand I.

‘Thanks to our wonderful male chauvinist society,’ Ammu said.

Chacko said, ‘What’s yours is mine and what’s mine is also mine.’

Pada tahun 1969 gerakan komunisme tengah mencapai puncaknya di Kerala. Dalam narasinya, Roy mengetengahkan bahwa gerakan komunisme di Kerala sebagai salah satu yang paling sukses di India. Hal itu, menurut Roy, disebabkan oleh besarnya populasi Kristen Siria di Kerala, dan pemahaman akan komunisme lebih mudah dianalogikan oleh penganut Kristen daripada Hindu. Ironisnya, situasi politik ini membawa keluarga Ipe, sebagai bagian kasta tinggi dan pemilik modal, menjadi sasaran ketidakpuasan para aktivis Partai Komunis, yang banyak di antaranya adalah golongan kasta rendah dan paria.

The trouble with this theory was that in Kerala the Syrian Christians were, by and large, the wealthy, estate-owning (pickle-factory-running), feudal lords, for whom communism represented a fate worse than death. They had always voted for the Congress Party.

Tanpa sepengetahuan keluarga Ipe, salah satu dari anggota Partai Komunis itu adalah Velutha, seorang tukang kayu dari kasta paria, yang keluarganya telah turun-temurun melayani keluarga Ipe. Velutha lah yang kemudian menjadi poros dari tragedi yang mengubah nasib keluarga Ipe, terutama Rahel dan Estha, selamanya. Apa yang selanjutnya terjadi kepada Velutha juga menggambarkan sedemikian kuatnya segregasi sosial yang terjadi di India, bagaimana sistem kasta telah mendarah daging sehingga agama selain Hindu sampai komunisme sekalipun tidak kuasa melawannya.

Sebagian besar latar belakang The God of Small Things dipinjam Roy dari masa kecilnya sendiri di Aymanam. Secara umum, kisah ini memproyeksikan ketegangan dan keresahan Roy akan benturan sosio-kultural yang membesarkannya. Pembaca mendapati Roy mengutuk sistem kasta (disebut sebagai “Love Laws” di buku ini), yang mau tak mau telah menjadi bagian kehidupan masyarakat India, tapi juga mencemooh keluarga Kristennya yang kebarat-baratan dengan menyebut mereka “anglophiles”. Di satu sisi, Roy mempermainkan bunyi-bunyian dalam Bahasa Inggris sebagai bentuk perlawanan terhadap bahasa imperial, tapi di sisi lain, ia juga tak sepenuhnya fasih berbahasa Malayalam. Satu bab yang dihabiskan Roy untuk bercerita tentang tarian Kathakali terasa tidak sepadan dengan referensi-referensi budaya Barat yang lebih kuat dalam buku ini, seperti film The Sound of Music atau kecenderungan Chacko mengutip karya sastra Inggris.

Kekuatan buku ini, sesungguhnya, terletak pada detail-detail yang dibangun Roy dalam narasinya. Detail-detail kecil ini bergerak liar, baik dalam ingatan Rahel maupun berupa ungkapan sang narator.

Once it had had the power to evoke fear. To change lives. But now its teeth were drawn, its spirit spent. It was just a slow, sludging green ribbon lawn that ferried fetid garbage to the sea. Bright plastic bags blew across its viscous, weedy surface like subtropical flying-flowers.

Hal-hal kecil dalam The God of Small Things memiliki kualitas yang menyesatkan, mengeruhkan pandangan karakternya dan memutarbalikkan nasib mereka tanpa ampun. Karakter-karakter di dalam buku ini pun digambarkan begitu pengecut; bersembunyi di balik hal-hal kecil, berharap hal-hal itu dapat menyelamatkan mereka, sehingga abai akan risiko besar yang mengikutinya.

And the Air was full of Thoughts and Things to Say. But at times like these, only the Small Things are ever said. The Big Things lurk unsaid inside.

Semakin mendekati akhir cerita, peristiwa-peristiwa digambarkan seperti kilatan-kilatan memori, dalam kalimat-kalimat pendek namun dramatis. Pengulangan-pengulangan kalimat dan kejadian di sepanjang buku menimbulkan perasaan terhantui bagi yang membacanya. Perasaan ini lah yang bisa membuat pembaca terus menelusuri kata demi kata dalam The God of Small Things, meski telah mengetahui akhir tragis dari kisah Rahel dan Estha.

 

Bermain Warna dengan The Urban Outliners

Saat itu awal tahun 2015 dan saya masih bekerja sebagai strategic planner di sebuah jaringan toko buku dan penerbit. Pada rapat business review rutin, salah satu asisten manager unit bisnis penerbitan mempresentasikan rencana produknya yang akan rilis tahun itu. “Kami akan mengeluarkan seri buku mewarnai untuk dewasa yang saat ini sedang tren di luar negeri,” ujarnya.

Saya tertegun mendengar kata-kata “buku mewarnai untuk dewasa”. Saat masih kecil pun saya tak merasa bahwa mewarnai adalah kegiatan yang menyenangkan. Terlalu banyak garis yang tak boleh dilanggar. Kreativitas yang hanya bisa disalurkan lewat pemilihan warna pun kadang masih harus mengikuti aturan. Ibu saya sering menegur kalau saya mewarnai kulit manusia dengan warna cokelat atau hitam. “Kok, warnanya gelap? Harusnya pakai warna krem,” ujarnya seakan-akan di dunia ini hanya ada manusia berkulit terang.

Selang beberapa minggu, teman saya bercerita bahwa dia baru saja mengunduh aplikasi baru yang bernama Colorfy di ponselnya. Aplikasi mewarnai untuk dewasa. “It’s so relaxing!” katanya. Rupanya, mewarnai memang sedang tren dan katanya bermanfaat untuk melepas stres. Ternyata jadi orang dewasa begitu memusingkan sampai mewarnai saja bisa jadi hiburan. Karena penasaran, saya sempat mencoba Colorfy. Hati malah tambah tak tenang karena ilustrasi dan warna-warna yang saya inginkan tidak tersedia untuk pengguna gratis.

Satu tahun telah lewat, buku-buku mewarnai untuk dewasa semakin bertumpuk di toko-toko buku, tapi tidak ada satu pun yang menarik. Sampai akhir Agustus yang lalu, terbit enam judul buku mewarnai yang akhirnya menarik perhatian saya.

Tergabung dalam seri The Urban Outliners, ada enam seniman visual yang masing-masing menerbitkan satu buku berisi ilustrasi-ilustrasi karyanya dalam format outline yang bisa diwarnai. Seniman-seniman itu adalah Lala Bohang, Mayumi Haryoto, Muhammad Taufiq (emte), Reza Mustar (Azer), Sanchia Hamidjaja, dan Yudha Sandy. Sebagian komik dan ilustrasi Azer bisa diikuti lewat akun Instagram @komikazer. Saya juga mengikuti ilustrasi Lala Bohang dan Sanchia Hamidjadja lewat akun Instagram mereka. Enam seniman visual itu mengangkat fokus yang berbeda, namun memiliki tema yang sama, yaitu kehidupan urban.

Sanchia Hamidjaja adalah nama pertama yang membuat saya menyerah, lalu menyingkirkan gengsi untuk membeli buku mewarnai untuk dewasa. Namun, sebuah video singkat di akun Instagram salah satu seniman visual itu, yang memperlihatkan cuplikan dari keenam buku The Urban Outliners, membuat saya bimbang. Enam-enamnya menampilkan ilustrasi khas masing-masing yang menyenangkan untuk dinikmati dan menantang untuk diwarnai.

Maka, pergilah saya ke toko buku terdekat dari rumah–sayangnya bukan bagian dari jaringan toko buku di mana saya bekerja dulu. Setelah menimbang-nimbang hingga masak, dengan berat hati saya pulang membawa dua buku saja, Stack City karya Sanchia Hamidjaja dan Lula Lyfe karya Lala Bohang.

Ilustrasi dalam Lula Lyfe bercerita tentang kehidupan sehari-hari seorang gadis remaja yang beranjak dewasa. Obyek gambarnya cewek banget. Dari junk food, kosmetik, barang-barang fesyen, bermacam-macam bentuk kue, hingga tumpukan baju dan piring yang belum dicuci. Ada Lula yang sedang bermain gawai di kamar mandi, berjuang mengecilkan perut agar bisa memakai crop top, dan mengacak-acak kulkas dalam balutan daster.

Karena hampir semua ilustrasinya berbentuk adegan dan obyek-obyek dalam hidup Lula, bidang pewarnaannya cukup luas. Saya mencoba mewarnai ilustrasi pertama dalam buku ini dengan pensil warna kecil dan hasilnya cukup bikin pegal. Mungkin krayon bisa jadi pilihan yang lebih baik karena sapuannya lebih luas dan bisa menampilkan sisi playful dari ilustrasi-ilustrasi Lala. Obyek yang paling saya sukai dari Lula adalah rambutnya yang pendek bergelombang–mudah untuk diwarnai dalam berbagai warna dengan gaya highlight atau ombre.

Berbeda dengan Lula Lyfe, Stack City mengangkat tema urban yang lebih luas. Sanchia mengambil obyek-obyek yang ditemui dalam keseharian hidup di kota kemudian menggambarnya berulang-ulang sehingga membentuk “tumpukan”. Ada toples-toples berisi jajanan yang biasa kita temui di warung, rumah-rumah warga yang berjejalan, kolam renang berisi anak-anak, gedung-gedung tinggi Jakarta diselingi asap polusi, ikan dalam plastik berisi air, dan tanaman dalam pot. Semua mengingatkan akan kepadatan dan keterbatasan ruang gerak yang dialami masyarakat kota.

Keterbatasan ruang gerak ini juga terasa saat mencoba mewarnainya. Bidang pewarnaan dalam Stack City sangat sempit dan penuh dengan detail. Saya memutuskan untuk menggunakan spidol yang ujungnya tipis agar bisa menjangkau detail-detail dalam Stack City. Hanya saja, ketika menjumpai obyek dengan bidang yang luas, agak sulit mengendalikan sapuan spidol sehingga di beberapa bagian bisa terdapat lebih dari satu pulasan dan warna jadi kurang merata.

Dua buku mewarnai ini memiliki tingkat kesulitan dan daya tarik yang berbeda. Ilustrasi Lala cenderung lebih mudah dan menyenangkan untuk diwarnai karena bisa bereksperimen dengan warna-warna pastel maupun neon. Sedangkan ilustrasi Sanchia, meski membutuhkan lebih banyak kesabaran untuk mewarnainya, memiliki dimensi ruang yang memikat bagi saya. Baik Stack City maupun Lula Lyfe juga menyediakan bidang polos–disengaja atau pun tidak–yang bisa digunakan untuk doodling.

Keenam buku The Urban Outliners ini layak untuk dikoleksi–kalau anggaran mencukupi. Untuk saya sih, sementara ini cukup dua dulu. Dua buku ini saja mungkin butuh waktu seumur hidup untuk diwarnai hingga selesai. Bukan karena sulit, tapi lebih karena saya ini cepat bosan. Bermain-main dengan buku-buku ini terasa seperti berkolaborasi dengan seniman-seniman penciptanya. Jika pun tak sempat diwarnai, seluruh ilustrasi The Urban Outliners tetap asyik dinikmati dalam bentuk outline hitam putih.

Dalam Perburuan Seri Sekolah Kehidupan

Buku How To Be Alone karya Sara Maitland menghampiri saya pada suatu siang yang hujan rintik-rintik di Aksara Citos, dua tahun sekian bulan yang lalu. Sayang, perjumpaan kami yang singkat itu tidak diakhiri dengan pulang bersama.

Tak ingat jelas kenapa saya memutuskan untuk tidak membawanya pulang. Kemungkinan besar karena sedang berhemat. Atau mungkin alasan lain. Entahlah. Padahal, kala itu, saya sedang butuh-butuhnya panduan untuk hidup sendiri pasca perceraian.

Keputusan tak membawanya pulang kemudian jadi penyesalan yang membayangi saya karena setelah perjumpaan tadi, sulit sekali menemukannya di toko buku. Maka, dimulailah perburuan buku bersampul oranye itu. Selama dua tahun terakhir, setiap mengunjungi toko buku Kinokuniya atau Aksara, saya selalu menyempatkan diri mencarinya. Terutama jika ada obral buku yang diadakan toko buku Periplus, dengan semangat membara saya membongkar tumpukan buku-buku obral dengan harapan bisa menemukannya (dan tentu, membelinya dengan harga yang lebih murah).

Pencarian selama dua tahun itu bukan tanpa hasil. Meski belum bertemu dengan si oranye, saya malah berkenalan dengan judul-judul lain dalam seri The School of Life yang menaunginya. Seri yang digagas Alain de Botton ini menyatakan dirinya sebagai buku self-help (swabantu). Itulah mengapa semua judul bukunya diawali frase ‘How To’.

Yap, self-help. Atau self-improvement. Atau segala narasi berbunga-bunga yang seakan menganggap semua masalah pembacanya berawal dari kemalasan semata sehingga si pembaca tak layak berkeluh kesah karena toh, masalah yang dialaminya akan hilang tak berbekas jika mengikuti arahan yang dibuat si penulis.

Hmm, agaknya yang terakhir ini hanya prasangka saya saja karena ternyata, bacaan self-help tidak perlu terkesan menyepelekan atau menggurui. Atau seperti yang disebutkan di sampul belakang tiap buku dalam seri The School Of Life, tidak perlu menjadi dangkal dan naif.

Seperti layaknya bacaan self-help, seri ini tetap berperan sebagai panduan
menghadapi permasalahan hidup di dunia modern. Hanya, narasinya tidak disajikan dalam bentuk tips atau langkah-langkah praktis, melainkan kajian yang merefleksikan hakikat dan membuka sudut pandang pembaca atas topik-topik yang diangkatnya.

Masing-masing judul, yang ditulis oleh berbagai penulis dari berbagai latar belakang keahlian, memiliki nada dan gaya bertutur yang berbeda. How To Think More About Sex (ditulis oleh penulis dan ahli filsafat Alain de Botton) mengeksplorasi sudut pandang manusia tentang seks dan kasih sayang menggunakan referensi filsafat dan literatur. Lain halnya dengan How To Develop Emotional Health (ditulis oleh psikolog Oliver James) yang membahas tentang hakikat kesehatan emosional berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan penulisnya.

Lima belas judul yang sudah terbit menyuguhkan berbagai topik dari mulai kerisauan tentang uang hingga bagaimana bertahan hidup di kota besar. Kekhasan penulisan dan topik-topiknya yang tanpa basa-basi menyentuh kerisauan manusia modern menjadikan seri ini bacaan yang asyik dan layak dikoleksi.

Collage 2016-05-27 15_58_49-1

Dalam dua tahun, sudah lima judul yang berhasil saya kumpulkan: How To Age, How To Connect With Nature, How To Think More About Sex, How To Deal With Adversity dan How To Develop Emotional Health. Lima judul yang sudah duduk manis di rak buku saya itu tentu kurang lengkap tanpa judul yang mengawali perkenalan saya dengan seri sekolah kehidupan ini: How To Be Alone.

Setelah kelima judul itu, saya meneruskan pencarian si oranye itu di berbagai toko buku di Jakarta–bahkan di acara Big Bad Wolf Books Jakarta bulan lalu–namun ia belum juga menampakkan diri. Sampai akhirnya saat makan siang di Setiabudi Supermarket Bandung akhir pekan lalu, tanpa sengaja saya menemukannya. Terselip di antara buku-buku novel obral di toko buku Periplus.

Perburuan buku tentang bagaimana menikmati kesendirian yang berawal saat saya memulai hidup sendiri di Jakarta malah berakhir di Bandung saat saya sudah tak lagi sendiri. Sebenarnya ini bisa saja jadi sebuah akhir cerita yang manis, tapi setelah dua tahun terlewati, perburuan ini tidak lagi menyangkut satu judul buku saja. Masih ada sembilan judul buku lagi yang belum ditemukan.

Perburuan masih jauh dari selesai. Ini baru benar-benar dimulai.