Di kamar saya, di kamar kos Jakarta dan di rumah Bandung, ada setumpuk buku yang belum selesai dibaca. Beberapa baru saja saya beli tahun ini, tapi kebanyakan sih sudah bertahun-tahun ngantri. Habis gimana dong, ritual baca buku akhir-akhir ini kalah sama rutinitas kerja.
Yey… kerja mah kewajiban, jangan dijadiin alasan! Kan ada after office hours sama weekend….
Nah, itu juga susah. Baca buku sekarang ini jadi prioritas ke sekian setelah nonton DVD, nge-net, sama wisata kuliner. Saya kebanyakan alasan banget ya?
Yang jadi masalah, tumpukan buku itu bukannya menghentikan saya dari aktivitas beli buku. Tiap bulan ada aja buku baru yang manggil-manggil minta dibeli. Saya nggak tega juga ngebiarin mereka lama-lama kedinginan tanpa kasih sayang di rak toko buku. Alasan lagi…. Akhirnya, si tumpukan itu bukannya makin rendah, malah makin tinggi, deh!
Salah satu penghuni tumpukan itu adalah buku ini: 9 Matahari. Penulisnya bukan nama yang asing kalau kamu punya hobi yang sama seperti saya di tahun 2002-2004: dengerin radio dari pagi sampai tengah malam. Yup, Adenita si penulis dulunya pernah jadi penyiar di Radio OZ Bandung. Bukan hanya itu aja sih, ternyata Teteh Adenita ini sudah malang melintang juga di dunia broadcasting. Buku 9 Matahari ini harus betah menghuni rak buku saya selama hampir satu tahun, sampai akhirnya malam minggu kemarin saya yang tengah mati gaya karena nggak bisa pacaran memutuskan untuk mengajak buku ini kencan. Ternyata, kemampuan baca saya masih bagus sehingga buku ini bisa habis terbaca dalam semalam saja.
Buku ini sendiri menceritakan perjuangan seorang perempuan bernama Matari yang berjuang mendapatkan gelar sarjana di tengah kondisi ekonomi keluarganya yang morat-marit. Premisnya oke, kan? Beda dengan tema-tema novel lain yang kebanyakan hanya menyorot glamornya kehidupan mahasiswa dengan tema sentral seputar kisah cinta. Saya suka bagaimana buku ini mengingatkan kita, dengan jujur dan blak-blakan, bahwa untuk sebagian orang kuliah itu nggak mudah dan kuliah itu barang mewah. Setiap orang memang punya perjuangannya masing-masing dalam menyelesaikan kuliah. Tapi kita, yang Alhamdulillah nggak perlu pusing ngutang kemana-mana untuk biaya kuliah dan hidup, terkadang banyak mengeluh sekadar menghadapi persoalan administrasi, kelakuan dosen, dan masalah lain yang kebanyakan berasal dari kelalaian sendiri. Kita lupa, nggak tahu, nggak tergerak untuk ingin tahu, bahwa buat sebagian teman-teman kita, kuliah dan jadi sarjana adalah impian yang sebegitu sulitnya diraih karena selain masalah tetek bengek itu mereka juga harus putar otak mencari sumber pembiayaan bahkan untuk makan sehari-hari. Kita berkubang dengan keluhan kita sendiri sampai nggak menyadari bahwa teman kita jauh lebih keras perjuangannya. Di beberapa bagian, novel ini menyampaikannya dengan terus terang, sedikit terkesan sinis. Tapi, seiring dengan perkembangan mental tokoh utamanya, pandangannya kemudian melembut hingga di akhir buku.
Walaupun buku ini ditujukan sebagai novel, dengan tidak menyebutkan nama orang dan institusi sebenarnya serta banyak adegan yang didramatisasi, membaca buku ini tetap terasa seperti membaca memoar. Bacalah ucapan terima kasih di akhir buku dan kita bisa begitu mudahnya menghubungkan tokoh-tokoh di dalam buku dengan sosok-sosok asli di kehidupan nyata. Apalagi penulisannya pun dilakukan dengan sudut pandang orang pertama. Mungkin memang ini lah gaya penulisan Adenita? Hmm… kita tunggu novel kedua deh, untuk memastikan hal itu.
Saya pun akhirnya jadi bersemangat lagi untuk menghabiskan tumpukan buku-buku yang belum terbaca di rak saya itu. Terlebih lagi, saya juga jadi semakin semangat untuk menghidupkan lagi mimpi saya sejak kecil: jadi penulis.
