Again, just like last year, I should say that this has been one hell of a year. I’ve lost words of how I should describe it. Many things have happened along the year, but very few of them recorded on this blog. Based on how few blog entries I’ve posted through the year (FIVE, people! It was FIVE damn entries and the last one was FIVE months ago!), you must’ve realized that my writing skill has been shamefully degrading. No, I won’t make excuses about me having a little a time to write, because the truth is, I’ve been having big time difficulty putting words together into a single blog entry. I seriously can blame my Twitter account for my degrading writing skill, but I don’t want to! Even though letting out your emotional outburst in 140 characters does require an exceptional skill.
But, anyway, it’s true that when you’re not busy talking to your cellphone/computer screen, life DOES happen. In a very unthinkable way.
Actually, you don’t need to read the rest of this entry, since the picture I put up there (yes, the one that says “I’ve changed so much in one year”) pretty much explains what this entry is about. I’ve changed. At least, I feel that I’ve changed. I thought last year had caused me enough changes, but maybe God thought a bigger change would do me better, so it happened. I changed even more. One of those changes is, saya kembali nyaman menulis dalam Bahasa Indonesia.
Setelah kurang lebih dua tahun mengisi blog ini dengan Bahasa Inggris, saya ingin memulai mewarnainya dengan Bahasa Indonesia juga. Dan tentunya, campuran kedua bahasa itu karena seperti ABG labil, kadang saya terlalu sombong untuk menulis dalam Bahasa Indonesia dan kadang saya terlalu galau untuk menulis dalam Bahasa Inggris. Yah, begitulah…. Dalam waktu kurang dari satu tahun, umur saya akan genap seperempat abad, dan seperempat abad juga saya terjebak dalam masa pubertas yang sepertinya ngga pernah berakhir ini. Seorang teman bilang ke saya, “Lo itu puber terlalu cepat. Jadi sekarang ini puber kedua.” Sial.
Saya masih ingat bagaimana tahun ini dibuka dengan memulai pekerjaan baru di perusahaan yang hingga bulan ini masih rutin men-transfer sejumlah uang ke rekening saya tiap tanggal 25. Dan semoga kegiatan rutin ini masih belum bosan untuk diteruskan karena saya masih ingin bekerja di sini. Hey! I’m actually saying that: “Saya masih ingin bekerja di sini.” You may not believe me, but it’s not easy to finally be able to say that from the bottom of my heart.
Butuh lima hari tinggal di alam bebas, empat bulan tinggal di hotel bintang empat, lima bulan terasing di sebuah kota bernama Solo, satu ujian yang gilang gemilang, satu ujian yang gagal total, sebelas bulan masa adaptasi yang menyakitkan, puluhan malam yang dilewati dengan menangis sendirian, sekian banyak ragu juga kecewa, ribuan kilometer yang ditempuh melintasi Jakarta-Bandung-Solo-Jogja, dan satu sloki tequila, untuk akhirnya bisa menerima dengan lapang dada, bahwa Tuhan punya rencana untuk saya dengan memberikan pekerjaan ini.
Oh, bukan sekedar memberikan sih, tapi membuat saya memilih pekerjaan ini. Saya ingat sekali bagaimana tahun ini dibuka dengan Tuhan Yang Maha Murah Hati memberi saya pilihan, untuk bekerja di perusahaan ini atau di perusahaan lain yang nama besarnya, juga gajinya, lebih menggoda. Bahkan setelah saya memilih perusahaan ini pun, masih ada pilihan lain yang disodorkan oleh Tuhan kepada saya. Tapi, entah kenapa, Tuhan menggerakkan saya untuk memilih perusahaan ini. Despite all the doubts and disappointments, I finally start to understand why.
Kenapa? Karena tahun ini, lewat bekerja di perusahaan ini dan momen-momen yang tercipta karenanya, membuat saya berubah banyak. Lebih banyak dari tahun lalu. Saya tidak lagi seambisius dulu, tidak lagi serba terburu-buru. Kalau tahun lalu sekedar menundukkan ego saya, maka tahun ini memperhalus bentuknya. Saya tidak lagi peduli, berapa banyak teman saya yang gajinya jauh lebih tinggi, berapa banyak yang sudah menikah, berapa banyak yang sudah menyandang gelar esdua, berapa banyak yang bekerja di tempat mentereng, berapa banyak yang bayinya sudah bisa merangkak, berapa banyak yang sudah tinggal di negara yang nun jauh di mana. Saya tidak lagi resah karena impian saya untuk ambil gelar esdua belum juga kelihatan batang hidungnya. Tidak lagi gelisah karena tidak puas dengan pekerjaan yang sekarang ini.
It turns out that for me, life is not about rushing to success, it’s more about having my own pace to happiness. Biarlah orang menganggap saya dilemahkan oleh zona nyaman, saya tidak lagi peduli. Those who talk you out of your comfort zone are too afraid to be happy.
Banyak hal baru yang saya lakukan tahun ini. Di tahun depan sendiri, banyak hal baru yang ingin saya lakukan. Oh, dan banyak juga hal lama yang ingin kembali saya giatkan di tahun depan. Salah satunya adalah menulis. Berkat @puisikita dan @sajak_cinta saya kembali menulis puisi lho, walaupun hanya 140 karakter. Nggak semua bisa lolos seleksi untuk di-retweet sih, tapi beberapa yang berhasil, bisa jadi tolok ukur saya untuk belajar. Rasanya bangga sekali bukan main kalau ada yang suka lalu nge-retweet puisi saya..hehehe…
Saya ingin merasakan kembali nyamannya hidup di luar Jakarta. Saya juga ingin liburan. Saya ingin kembali belajar bahasa asing. Saya ingin lebih mencintai pekerjaan saya. Untuk sementara, tidak ada hal besar yang ingin saya lakukan tahun depan. Hanya resolusi-resolusi kecil yang bisa membuat saya lebih mensyukuri hidup.
Walau bagaimana pun, saya bersyukur atas semua yang sudah terjadi tahun ini. Yang baik, yang buruk, semuanya. Banyak sudah terjadi tahun ini, dan saya berdoa supaya lebih banyak lagi yang akan terjadi di tahun depan. Lebih banyak harapan, lebih banyak kemungkinan, lebih banyak kejutan, lebih banyak kebahagiaan. Semoga.
Slow down and enjoy life. It’s not only the scenery you miss by going too fast – you also miss the sense of where you are going and why.
~ Eddie Cantor

Aminnnnnn…. Always wishing all the best for your life…and try better and better and never stop trying to accompany you trough the rain,winter,fall and happiness….
satu sloki tequilla?? ahahahahaaaa…. beneran cuma satu sloki??
saya cinta Eka yang mana pun.. smoooch Aminnnn
restu: thank you…
dyahlarasati: bener…TEQUILA-nya cuma satu sloki.. :p
capcaibakar: *smooch* makasiiiiih!
I’d like to say that your blog post has made my day hahaha. I stumbled upon it when I was random-clicking my blogroll links to check whether or not they still existed. Most of them didn’t. Luckily this one did. Being on hiatus may be a choice but deleting a blog entirely is simply unbelievable. What were they thinking? Haha.
Anyhow, this paragraph below is amazing:
“Saya tidak lagi seambisius dulu, tidak lagi serba terburu-buru. Kalau tahun lalu sekedar menundukkan ego saya, maka tahun ini memperhalus bentuknya. Saya tidak lagi peduli, berapa banyak teman saya yang gajinya jauh lebih tinggi, berapa banyak yang sudah menikah, berapa banyak yang sudah menyandang gelar esdua, berapa banyak yang bekerja di tempat mentereng, berapa banyak yang bayinya sudah bisa merangkak, berapa banyak yang sudah tinggal di negara yang nun jauh di mana.” – Anastha Eka
I guess we all have come to understand that there’s more to life than merely obsessively fighting for what we want, or maybe I should put it, fighting for what people usually expect, or perhaps, fighting for what’s deemed ‘outstanding’ by the society. As we grow older, some things start to matter more while some become less important.
Trust me, having a Master’s degree and living abroad are meaningless if there’s no life-lesson one could learn. All life-lesson is equally important, be it acquired abroad or in a city called Solo. What matters is whether it can be of assistance to one’s life. If it could not, it would simply be a waste of time.
Cheer up, the opportunity will come in no time. There’s no need to rush.