My Oldest Cousin is Married!

12 05 2008


Congratulations for Mas Rocky! He is now a lovely wedded husband to a beatiful girl, Mba Novi. Hoping I could be the next, hahahaha!

See the rest of the photos HERE!




Please meet…

12 05 2008

…Detective Charlie Crews (Damian Lewis) from Life, the new number 1 on my detective hunk list. Call me a geek, but yes, I do have a list.

The old number 1 was FBI Agent Fox Mulder (David Duchovny) from The X Files. FBI Agent Don Eppes (Rob Morrow) from Numb3rs were almost there, but he’s too ’sexy’ for a detective. FBI Agent Seeley Booth (David Boreanaz) from Bones were climbing up but he grins a lot, so he fell down a few notches.

This one, Charlie Crews, is cute, a bit disconnected from his surroundings, and has a creepy-freaky quality which makes him interesting yet adorable to watch. Can’t wait to see Life tomorrow! Yay!




Pada Suatu Pagi Hari

22 04 2008

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan taka ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin mambakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

(Sapardi Djoko Damono, 1973)

Tags: ,




Self-Esteem Mad Lib

21 04 2008

Do you know Mad Lib? It’s a word game where one player prompts another for a list of words to substitute for blanks in a story (Wikipedia). This is for example:

(Your name) (verb) apple.

You can fill:
Eka kick apple or Eka eat apple, like that.

This is a self-esteem mad lib from Glamour (May 2008 ) magazine:

Face it, (your name), you are about the greatest thing since (favorite food). No one else can (verb) like you can. Your best friend says your the (adjective)-est person in the world. Sure, you once (embarrassing thing you did), but you also (honorable thing you did). So, (favorite endearment), today is the day you’re going to stop beating yourself for being (negative adjective) and start loving yourself for being (positive adjective), (positive adjective), and (positive adjective). And if people give you a (adjective) time, just tell ‘em they can take their (noun) and (verb) it up their (body part)!

Mine goes like this:

“Face it, eKa, you are about the greatest thing since tuna-cheese sandwich. No one else can think like you can. Your best friend says your the boldest person in the world. Sure, you once freak out like a maniac, but you also get someone out of a tight spot. So, baby girl, today is the day you’re going to stop beating yourself for being whiny & melodramatical and start loving yourself for being upfront, dedicated, and independent. And if people give you a harsh time, just tell ‘em they can take their s**t and shove it up their face!”

Try it, it’s fun and it surely boost your self-esteem ^_^




Teman yang Baik

18 04 2008

Seorang teman gue, si A, cerita begini tadi siang:

“Ka, gue nelepon si E. Si E tanya, ‘lo ke mana aja?’ Ya gue jawab, ‘Oh, gue seminggu kemarin balik ke Jakarta.’ Si E terus bilang dengan agak ketus, ‘Lo kok suka ngilang gitu sih, ga bilang-bilang?’ Gue kaget kan, Ka. Ya terus gue bilang, ‘Aduh, sorry E, ga ngabarin.’ Si E malah menjadi-jadi, ‘Lo tuh ga aware ya sama temen? Tau-tau ngilang ga ngabarin orang. Kaya orang autis. Suatu saat lo tuh bakal butuh temen dan temen itu yang bakal bantuin lo. Makanya lo harus mupuk pertemenan itu!’”

Oke, gue potong sampe situ karena ceritanya rada panjang. Gue ga tau kenapa temen gue si E ini marah-marah begitu sama si A. Bisa jadi gara-gara dia lagi mumet ngerjain skripsi. Dan gue juga ga tau kenapa gue jadi kesel (padahal si A aja nggak kesel) ngedengerin omongan si E.

Sejak semester 2, gue, E, A, dan 5 orang temen gue yang lain ceritanya jadi temen ’se-gengan’ yang sering jalan atau nongkrong di kampus bareng. Terus sekitar semester 5 atau 6 gitu, kita mulai mencar-mencar, mungkin gara-gara pada punya cowo di kampus, mungkin pengen nyoba gaul sama orang lain atau mungkin punya kesibukan sendiri-sendiri di kampus ataupun di luar. Setau gue sih kita-kita oke aja jadi ’sahabat semu’. Malah kita suka becanda kaya ngomong, ‘Payah lo, kemana aja?
Dasar persahabatn semu nih!’ Yang kaya begitu lah.

Akhir-akhir ini, karena pada sibuk sendiri-sendiri, Si E lebih sering ngabisin waktu sama ‘geng’ lain. Sebenernya gue dan yang lain juga sering main bareng ‘geng’ ini. Tapi karena akhir-akhir ini sering banget, si E sampe dijulukin anggota baru sama ‘geng’ ini. Nah, masalahnya ‘geng’ ini emang sahabatan beneran. Kalo gue liat sih mungkin (mungkin, ya) karena kebanyakan dari mereka ngekos jadi kan rasanya udah kaya sodara sendiri secara mereka di sini ga punya siapa-siapa lagi. Kadang gue juga suka ngerasa pengen punya persahabatan kaya mereka. Tapi, kalo dipikir-pikir lagi kayanya ga cocok deh secara gue kan cuek abis.

Kenapa sih kita ga bisa kaya mereka?

Pertama, setidaknya gue sama si A bukan tipe orang yang suka iseng nelpon atau sms ke temen cuma buat nanya apa kabar. Jangan kan sama temen, sama bokap yang tinggal di Jakarta aja gue jarang sms. Si A juga begitu. Padahal gue tau banget nih, temen-temen gue di ‘geng’ ini adalah orang-orang yang taat sms-an dan ngebales sms. Walopun sms-nya cuma ‘lagi ngapain?’

Kedua, gue pikir yang lain juga fine aja sama keadaan yang kaya gini. Wajar lah, kita punya kesibukan sendiri dan kadang ga mau diganggu.

Ketiga, ini sih pure pendapat pribadi gue. Kita kan bukan anak SMA. Emang yang namanya temen akhirnya itu-itu lagi tapi, yah…. kayanya udah bukan umur deh main geng-gengan.

Nah, yang bikin gue kesel adalah omongan dia yang kira-kira begini:
Suatu saat lo tuh bakal butuh temen dan temen itu yang bakal bantuin lo. Makanya lo harus mupuk pertemenan itu!

Selama hampir setaun terakhir, gue hampir ga pernah ditelepon si E. Dua telepon terakhir yang gue inget: 1. Dia nanya ke gue rumah dosen pembimbingnya, yang kebetulan ibunya temen SMA gue. Gue ga tau rumahnya, tapi akhirnya gue tanyain ke temen SMA gue yang lain. Terus setelah tau gue nelpon dia balik. 2. Dia nanya no telepon cowo gue dan gue yakin dia mau konsultasi soal skripsi.

Dia kolokium pun gue tau dari temen gue yang lain. Dia deket sama cowo, gue tau dari si A. Dia jadian gue tau dari temen gue, Dy. Dia ga pernah kasih gue kabar, jarang banget nelpon buat ngajak gue jalan, itu yang namanya mupuk pertemenan? Tanpa pupuk itu, tanpa telepon kabar atau tanpa sms ngajak jalan, gue masih mau bantuin dia, tulus.

Gue emang ngerasa, gue jarang juga ngasih dia kabar. Jarang curhat sama dia. Memang gue ikut ngerasa salah denger cerita A. Tapi, yang pengen banget gue tanya sama dia adalah, ‘Apa lo ngelakuin hal yang sama ke gue? Apa lo bener memupuk pertemanan? Apa bener temen cuma bisa dimintain tolong kalo lo sms atau telepon tiap hari?’

Maaf deh, kalo gue belum bisa jadi teman yang baik menurut ‘kategori’ lo. Tapi maaf lagi, apa lo juga udah bisa jadi teman yang baik menurut ‘kategori’ lo sendiri?

Kok, gue ga ngerasa gitu ya? Kok, gue ngerasa lo juga nelpon gue kalo ada perlunya aja.

Tapi walaupun gitu, lo tetep temen gue. Lo orang pertama yang gue kenal di Unpad (kalo lo masih inget). Lo temen main, temen jalan, temen nongkrong, temen pulang gue dari awal gue kuliah di sini. Lo inget ga waktu lo belum kenal tas jinjing dan setelan ke kampus kita cuma kaos/polo shirt, jeans, sepatu converse, sama tas ransel? Inget ga siapa yang nyemangatin lo beli kaos putih waktu lo ga pede karena ngerasa kulit lo gelap? Gue ga butuh lo telepon gue tiap hari, ga butuh lo sms nanya kabar gue, kapan pun lo butuh bantuan gue pasti gue bantu. Tanpa itu semua lo tetep temen gue. Dan sampe kapan pun, mungkin 10 taun lagi mungkin lebih, gue papasan sama lo, terus ditanya orang lain tadi itu siapa gue bakal tetep jawab, “Itu temen gue.”




Pilgub Jawa Barat

14 04 2008

Hasil akhir memang belum keluar, tapi hasil quick count sementara memenangkan pasangan ‘HaDe’: Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (baca di sini).

Apa pasangan Heryawan-Dede berhasil memenangkan pilkada paling sepi, ga rame, dan (hampir) ga ada yang peduli di Indonesia? Kalau sampai berhasil, berarti ada kemungkinan ga bisa kesel lagi sama mobil-mobil pelat-B yang tiap weekend bikin gue lebih betah di rumah daripada kena macet di seluruh pelosok Bandung. Soalnya, calon kuat gubernurnya masih jadi warga Jakarta.




Menyedihkan….

14 04 2008

Kalo dipikir-pikir ternyata gue ini ga punya self discipline. Gue tau skripsi itu ga akan selesai kalo ga dikerjain tapi tetep aja ga gue kerjain. Tetep aja gue bengong, nulis journal, nonton tv ato dvd…. Padahal bab 2 gue nunggu buat disentuh… Kesian kan skripsi gue, jadi jablai….

Gimana mau lulus Juli, April aja belum kolokium…..?